18 Nov

aiffatul_layly:

Add your thoughts here… (optional)

Originally posted on Bigbasz's Personal Blog:

Klip ini lagi populer di internet akhir-akhir ini.  Banyak banget yang posting Klip lagu dari Michael Hart – We will not go down. Akhirnya aku jadi ikut-ikutan posting klip-nya di WP-ku ini deh.

View original 194 more words

Putri seribu bunga (cerpen oleh Nurkholis SPd.SD)

19 Okt

PUTRI SERIBU BUNGA

Oleh :
Nurkholis, S.PdSD.

Negeri Nusa Kembang dilanda wabah penyakit. Sudah banyak yang terjangkit bahkan meninggal dunia. Permaisuri juga terkena penyakit aneh. Mendadak bisu. Tubuhnya kaku seperti patung. Raja sangat sedih melihat keadaannya.
“Ampun Raja, hamba dengar ada tabib muda yang cantik dan sakti dari Lembah Seribu Bunga. Pasti mampu mengobati penyakit permaisuri”, kata Panglima menunduk hormat.
“Jika begitu adanya, kita sendiri yang akan ke sana”, mata raja mengerjap gembira penuh harapan.
Suatu siang yang terik, raja beserta rombongan tiba di Lembah Seribu Bunga seperti yang dimaksud. Suasananya sepi, hanya dedaunan yang tertiup angin. Tiba-tiba melintas arak-arakan kupu, capung, dan tawon. Berdengung saling memburu menuju arah yang sama.
“Ini sungguh aneh panglima. Kita ikuti arah serangga itu!” Raja mengacungkan telunjuknya.
“Percepat langkah kita!”, seru panglima memimpin rombongan.
Sampainya di sana, raja terdiam. Matanya diusap beberapa kali. Seakan tidak percaya dengan yang dilihatnya. Seorang putri mandi bercanda bersama kupu-kupu dan tawon.
“Apa yang kalian lakukani? Jangan sentuh semua bunga di sini karena beracun, hanya aku yang punya penawarnya!”. Putri Bunga terkejut mengetahui ada orang yang melihatnya.
Terlambat. Raja sudah menyentuh kelopak bunga berwarna kuning seperti lonceng. Perlahan tubuhnya ambruk di samping panglima.
“Ampunilah kami”, panglima meminta maaf dan menjelaskan maksud kedatangannya.
Semua rombongan singgah di kediaman Putri Bunga. Tubuh raja dibaringkan di ranjang kayu dekat jendela. Ia lalu berusaha menyembuhkan raja yang terkena racun bunga.
Setelah siuman, raja berterima kasih pada Putri Bunga dan meminta obat untuk permaisuri.. Sekali lagi ia kaget saat melihat tanda lahir bunga mawar merah di pergelangan tangan putri itu.
“Siapa sebenarnya dirimu? Tanda lahir itu seperti yang dimiliki putriku”.

“Hamba Putri Bunga, anak dari seorang janda di Lembah Seribu Bunga ini, Baginda raja”, jawab Putri Bunga.
Raja mendesah panjang teringat kenangan masa lalu putrinya. Sang raja bercerita tentang Putri Ganda Wangi yang sampai saat ini tidak ada kabarnya.
“Ia putri Ganda Wangi yang dititipkan pada hamba belasan tahun lalu, Baginda Raja?”, dayang keluar dari ruang tengah membawa selimut bayi milik Putri Bunga.
Raja dan panglima kaget melihat dayang kepercayaan permaisuri.
“Bukankah aku anak kandung ibunda dan dibesarkan di Lembah Seribu Bunga ini?”, tanya Putri Bunga tidak percaya pengakuan ibunya.
Keadaan Negeri Nusa Kembang sedang genting. Kilat menyambar disertai gelegar suara petir yang semakin bergemuruh. Angin topan menyapu beberapa pohon di taman istana. Tumbang bersama akarnya.
Keringat dingin membasahi pelipis dan kening permaisuri yang tidak memakai mahkota. Rambutnya yang panjang menghitam tampak bercahaya ketika terkena sinar kilat. Petir masih terdengar. Sementara bau di kamar raja menyengat seperti bangkai, merata di seluruh ruangan. Anehnya bukannya hilang, bau itu semakin menguat.
Tiba-tiba sebuah suara terkekeh-kekeh memecah kebahagian di istana.
“Selamat atas lahirnya penerus tahtamu, wahai Raja Nusa Kembang? Ia hanya akan menghancurkan seluruh rakyatmu. Mereka akan mati lemas mencium aroma busuk dari tubuhnya. Lebih baik buang saja bayi itu sebelum semua terlambat”.
Mendengar penuturan suara gaib itu, isak tangis permaisuri tak tertahankan. Mereka menginginkan anak sudah hampir sepuluh tahun, kini tidak bisa hidup bersama.
Raja sangat mencintai rakyat, dengan berat hati putrinya dititipkan pada seorang dayang yang membantu kelahiran sang putri. Menjauh dari istana demi ketenteraman rakyat Nusa Kembang.

Sepanjang perjalanan, dayang istana itu memeluk tubuh mungil putri yang kulitnya bercahaya, dia tidak berani menatap mata sang putri karena takut mati lemas.
Hingga tibalah di sebuah hutan yang lebat. Rimbunnya dedaunan menghalangi sinar matahari yang masuk. Gelap. Suara cericit binatang dan burung saling berkicau.
Dayang berusaha mengusir rasa takutnya. Ia mendengar gemuruh suara air terjun tak jauh dari tempatnya berada. Dengan hati-hati ia tetap melangkah pelan mencari air terjun itu.
Seketika, ia tak berkedip ketika dilihatnya air terjun putih bersih dengan debur air yang menyejukkan. Tampak di sebelah kanan ada lembah taman bunga yang bermekaran. Kupu-kupu, capung, dan kumbang tidak berebut. Semua sangat lahap menikmati sari bunga. Tanpa terusik kehadiran dayang yang akan memandikan putri di air terjun itu.
Hingga waktu berlalu, putri tumbuh menjadi putri yang sangat cantik dan berbau wangi.
Setelah ibunya menceritakan siapa orang di hadapannya itu, ia baru percaya.
“Sudah saatnya kita kembali ke Nusa Kembang, Putri Ganda Wangi. Ibundamu sakit keras. Sekarang kita bisa berkumpul bersama. Kamu tidak berbau busuk seperti ketika lahir dulu”. Kata raja memeluk tubuh putrinya yang berbau wangi.
“Benarkah kupu-kupu yang menyedot bau busuk di tubuhku?”, tanya Putri Ganda Wangi.
Putri Ganda Wangi menangis tersedu. Kupu, capung, dan tawon berdengung berebutan hinggap ditubuhnya. Semua tersenyum.
====================================================================

Penelitian Tindakan Kelas (PTK Aiffatul LaylyUPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN DALAM MENENTUKAN KPK DAN FPB SISWA KELAS V SDN SIDOMUKTI II KECAMATAN KASIMAN KABUPATEN BOJONEGORO TAHUN AJARAN 2011/2012 MENGGUNAKAN METODE TANYA JAWAB PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA)

18 Okt

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Matematika, mata pelajaran yang dianggap monster yang menakutkan atau dengan kata lain matematika merupakan pelajaran paling sulit. Banyak para siswa dibuat pusing untuk mencari jawabannya. Tapi itu hanya anggapan siswa saja, sebenarnya pembelajaran matematika yang menekankan kepada nalar, yang kongkrit yang didalamnya terdapat materi yang dikaitkan dengan kegiatan masyarakat sehari-hari, seperti menjumlah, mengurang, mengalikan, dan membagi sebagai aplikasi dari pembelajaran ini. Begitu penting materi ini diangkat, karena materi ini terdapat kegiatan mengukur, menimbang bahkan menakar.
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Pembelajaran matematika lebih ditekankan, harus dikuasai oleh siswa. Para siswa dituntut berpikir kritis yang bernalar logika. Upaya meningkatkan kemampuan dasar siswa dilakukan berbagai pendekatan dalam proses belajar mengajar. Proses belajar mengajar dilakukan melalui komunikasi timbal balik yang saling berperan aktif dalam melaksanakannya di lapangan, dan tidak hanya sekedar pemberikan informasi searah dengan upaya mengembangkan kreativitas dan keterampilan yang dimiliki sehingga mampu menentukan dan memecahkan masalah sendiri. (Suciati, 2005)
Tujuan pengajaran matematika adalah :
1. Peserta didik mampu menghadapi pembahasan perubahan kemampuan dalam berpikir yang kongkrit dan dapat memecahkan persoalan atau masalah.
2. Peserta didik menggunakan dengan tepat media dalam kehidupan sehari-hari.
Melihat tujuan yang diemban oleh mata pelajaran matematika maka seharusnya pembelajarannya di sekolah-sekolah merupakan suatu kegiatan yang disenangi , menantang dan bermakna bagi peserta didik. Kegiatan belajar mengajar mengandung arti interaksi dari berbagai komponen, seperti guru, murid, materi ajar dan sarana lain yang digunakan pada saat kegiatan berlangsung. Kegiatan Belajar Mengajar merupakan kegiatan interaksi guru dengan siswa dan antara siswa dengan siswa serta antara siswa dengan sumber belajar lainnya dalam satu kesatuan waktu dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan
Berdasarkan uraian di atas dapat diasumsikan bahwa matematika mempunyai nilai yang penting dan strategis dalam rangka mempersiapkan sumber daya manusia yang cerdas, unggul, handal dan bermoral semenjak dini / usia SD. Hal yang menjadi hambatan selama ini dalam pembelajaran matematika adalah media dan metode yang dipilih guru kurang tepat sehingga siswa cenderung bosan dan terkadang takut pada pelajaran ini yang pada akhirnya berimbas pada hasil belajar siswa yang kurang memuaskan / rendah. Dari materi Kelipatan Pesekutuan Terkecil (KPK) dan Faktor Persekutuan Terbesar (FPB) siswa masih mengalami kesulitan dalam menyelesaikannya, maka guru harus pandai menerapkan metode apa yang sesuai agar tujuan pembelajaran dapat tercapai.
Pembelajaran matematika di kelas V SDN Sidomukti II Kecamatan Kasiman Kabupaten Bojonegoro membahas materi Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK) dan Faktor Persekutuan Terbesar (FPB) dengan menggunakan faktor prima, metode yang digunakan adalah Tanya jawab dan latihan-latihan. Proses belajar mengajar melibatkan siswa agar berperan aktif untuk memecahkan soal-soal latihan. Disamping itu siswa diberikan kesimpulan untuk bertanya dan menjawab pertanyaan.
Dalam upaya memperbaiki pembelajaran tentunya diperlukan strategi yang terarah, agar faktor-faktor penyebab dari rendahnya kemampuan siswa dapat di atasi. Dilihat dari segi pembelajaran matematika faktor apa yang timbul, sehingga pembelajaran ini sulit diterima oleh siswa, faktor tersebut adalah :
1. Siswa tidak terampil dalam menjumlah, mengurang, cara mengalikan dan bahkan tidak mampu membagikan suatu bilangan.
2. Siswa tidak mau bersungguh-sungguh dalam menyelesaikan tugas yang diberikan.
Oleh karena itu, guru dan siswa harus berinteraksi dengan baik guna memecahkan masalah yang dihadapi. Langkah guru dalam membimbing siswa secara individual, guru dapat menggunakan pendekatan remedial yang bersifat kuratif. Pendekatan ini merupakan salah satu kegiatan bersifat bertahap dalam memahami mata pelajaran. Dalam penjelasan guru ketika berlangsung ada sebagian yang belum dapat memahami pelajaran. Untuk siswa tersebut guru memberi dapat memberi bantuan secara individual, dengan memberi tugas atau latihan-latihan
Dalam Undang – Undang RI Nomor 14 Tahun 2005, tentan Guru dan Dosen disebutkan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada usia dini, jalur pendidikan anak usia dini melalui jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pen didikan menengah. Dalam hal ini peran dan tanggung jawab guru sangatlah strategis sekali.
Dalam melaksanakan tugas sehari-hari sebagai guru yang berperan sebagai pengajar dan pendidik di Sekolah Dasar, penulis melakukan penelitian terhadap hasil belajar siswa di kelas V dengan tujuan mengetahui tingkat penguasaan siswa terhadap pelajaran matematika pada awal semester ganjil pada tahun pembelajaran 2011/2012. Dari hasil penelitian dapat diperoleh data penguasaan siswa terhadap pelajaran matematika khusus materi KPK dan FPB berkisar di bawah 50%
Berikut data awal siswa sebelum penelitian
Table 1.1.
Nilai Matematika Siswa Sebelum Penelitian
No Nama Siswa Nilai Jenis Kelamin Kemampuan
KKM B S R
1 Bayu Heri Setiono 50/70 L √
2 M. Efendi Pradana 60/70 L √
3 Niswatun Aniroh 80/70 P √
4 Ajeng Sulistyaningrum 80/70 P √
5 Sri Rahayuningsih 60/70 P √
6 M. Luthfi Aziz 60/70 L √
7 Siti Darwati 50/70 P √
Jumlah Laki-laki 3
Jumlah Perempuan 4
Jumlah total 7
Sumber: Data siswa SDN Sidomukti II Kecamatan Kasiman Tahun Pelajaran 2011/2011
Berdasarkan data yang diperoleh maka perlu dilakukan usaha perbaikan dan peningkatan pembelajaran agar siswa dapat meningkatkan kemampuan dan hasil belajarnya pada mapel matematika khususnya dalam menentukan KPK dan FPB. Untuk memperoleh hasil belajar yang lebih baik, guru harus menggunakan metode dan pendekatan yang bervariasi agar siswa dapat berperan aktif dalam proses pembelajaran melalui pengalaman langsung. Bruner (1982) menjelaskan pentingnya tekanan pada kemampuan peserta didik dalam berpikir intuitif dan analitik akan mencerdaskan peserta didik membuat prediksi dan terampil dalam menemukan pola (pattern) dan hubungan (relations). Oleh sebab itu guru berusaha mengembangkan pembelajaran yang menuntut ketertiban siswa untuk aktif dalam proses pembentukan pengetahuan dan menggabungkan pengetahuan yang telah dipelajari dengan pengetahuan yang dimilikinya dalam memecahkan suatu permasalahan.
Berdasarkan pengalaman yang diperoleh dalam penelitian, penulis menerapkan metode / model pembelajaran dengan menggunakan strategi ” Tanya Jawab dan Pemberian Tugas Individual ” pada siswa kelas V SDN Sidomukti II Kecamatan Kasiman Kabupaten Bojonegoro, dengan harapan dapat mencapai tujuan pembelajaran yang sudah ditentukan.

Identifikasi Masalah
Setiap mata pelajaran diharapkan dapat membentuk kecakapan hidup bagi peserta didik untuk memasuki kehidupan nyata dimasyarakat. Pendidikan diharapkan sebagai alat bagi siswa agar mampu memecahkan dan mengatasi masalah – masalah yang dihadapi pada kehidupan nyata dengan cara yang lebih baik dan lebih cepat. Berdasar pemahaman diatas, Peran serta guru sebagai tenaga professional adalah mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik, tentu erat kaitannya dengan hasil belajar siswa, (UU RI No. 14 Tahun 2005, tentang Guru dan Dosen). Melihat hasil yang diperoleh siswa terhadap pelajaran matematika khusus pada materi penggunaan faktor prima untuk menentukan KPK dan FPB sangat rendah dari 7 siswa hanya 2 orang yang mencapai penguasaan materi ≥ 70 %.
Rendahnya kemampuan siswa dalam menguasai perkalian dan pembagian , dan kesulitan siswa memahami fungsi KPK dan FPB Keberhasilan siswa dalam pembelajaran ditunjukkan oleh kemampuan siswa dalam menguasai tujuan pembelajaran dan dapat dilihat dari hasil evaluasi yang diberikan guru.
Suatu pembelajaran dapat berhasil jika guru mampu dengan tepat memilih dan menerapkan metode dan merumuskan tujuan serta mentukan alat penilai. Sikap yang ditunjukan guru, kemampuan guru dapat memahami, kelemahan dan kelebihan yang dimiliki siswa. Siswa adalah individu yang unik, yang memiliki sifat tertentu baik kemampuan, niat, bakat, cara berpikir dan daya serap yang berbeda harus dapat dihargai oleh guru.
Berdasarkan hasil tersebut, peneliti meminta bantuan supervisor untuk mengidentifikasi masalah, atas kekurangan dari pembelajaran yang dilaksanakan maka terungkaplah beberapa masalah yang terjadi dalam pembelajaran yaitu :
1. Siswa mengalami kesulitan menjawab soal-soal yang diberikan.
2. Penjelasan yang diberikan guru belum mendapat respon yang tepat bagi siswa.
Dalam pembelajaran matematika di kelas V SDN Sidomukti II Kecamatan Kasiman Kabupaten Bojonegoro materi pokok ” menentukan KPK dan FPB ” penulis menemukan kurangnya keterlibatan siswa dalam kegiatan belajar mengajar, yang disebabkan karena guru dominan hanya menggunakan metode ceramah dalam proses pembelajaran, dan siswa tidak termotivasi sehingga pembelajaran menjadi tidak menarik dan tidak menantang. Tidak ada siswa yang mau bertanya terhadap materi yang diajarkan meskipun diberi kesempatan. Oleh karena itu guru sebagai peneliti membutuhkan teman sejawat yang berperan sebagai pemberi saran dan masukan untuk kemajuan siswa baik dalam hal pembelajaran maupun pemilihan metode yang tepat untuk peserta didik.
Selain teman sejawat dalam melakukan Penelitian Tindakan Kelas ini banyak pihak yang membantu kelancaran dan keberhasilan PTK ini di antaranya :
a) Dosen pembimbing / supervisor 1
b) Kepala Sekolah tempat pembimbingan RPP / Supervisor 2
c) Kepala Sekolah tempat penelitian beserta rekan guru
d) Siswa-siswi Kelas V SDN Sidomukti II
e) Teman-teman anggota Kelompok IV

Analisis Masalah
Salah satu materi pokok bahasan yang masih menjadi kendala bagi siswa mereka belum mampu menentukan Kelipatan Persekutuan Terkecil dan Faktor Persekutuaan Terbesar dengan menggunakan faktor prima.
Rendahnya kemampuan siswa terutama pada perkalian dan pembagian dengan benar maka mereka akan kesulitan memecahkan masalah.
Berdasarkan masalah yang dihadapi siswa dalam pembelajaran materi menentukan KPK dan FPB dengan menggunakan faktor prima. Penulis berdiskusi dengan teman sejawat, setelah materi diberikan kepada siswa ternyata hasil belajar yang diperoleh kurang memuaskan. Dari identifikasi masalah di atas dapat dianalisis bahwa penyebabnya adalah:
1. Kurangnya penguasaan terhadap bilangan yang berkaitan dengan perkalian dan pembagian.
2. Siswa tidak bersungguh-sungguh pada hal penjelasan sudah terperinci.
Adapun alternatif pemecahan masalah yang dipilih untuk mengembangkan dan meningkatkan hasil belajar matematika siswa dalam menentukan KPK dan FPB adalah dengan menggunakan metode Tanya jawab serta pemberian tugas individual sehingga proses belajar mengajar terlaksana secara aktif dan sekaligus hasil belajar siswa dapat meningkat.
Dari semua yang telah terurai dapatlah kiranya dirumuskan formulasi judul penelitian tindakan ini sebagai berikut: “Upaya Meningkatkan Kemampuan Dalam Menentukan KPK Dan FPB Siswa Kelas V SDN Sidomukti II Kecamatan Kasiman Kabupaten Bojonegoro Tahun Ajaran 2011/2012 Menggunakan Metode Tanya Jawab Pada Mata Pelajaran Matematika“

B. Rumusan Masalah
Masalah utama yang ingin dicarikan pemecahannya melalui penelitian tindakan Kelas V ini adalah Bagaimana upaya meningkatkan kemampuan dalam menentukan KPK Dan FPB Siswa Kelas V SDN Sidomukti II Kecamatan Kasiman Kabupaten Bojonegoro Tahun Ajaran 2011/2012 menggunakan metode tanya jawab pada mata pelajaran matematika?

C. Tujuan Penelitian Tindakan
Secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk menerapkan suatu metode Tanya jawab guna perbaikan pembelajaran agar hasil belajar yang diharapkan dapat tercapai secara rinci. Tujuan yang ingin dicapai adalah :
1. Mengkaji faktor penyebab rendahnya penguasaan materi pembelajaran matematika terutama pada penjelasan KPK dan FPB.
2. Memperdalam dan mempertajam pemahaman siswa terhadap terhadap materi KPK dan FPB dengan keterampilan mengali dan membagi.
3. Meningkatkan kemampuan guru dalam menuntaskan pembelajaran materi yang berkaitan dengan KPK dan FPB.
4. Untuk mengetahui efektivitas metode yang telah digunakan dalam meningkatkan mutu pembelajaran matematika.

D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian tindakan Kelas V ini diharapkan bisa bermanfaat:
1. Bagi Peneliti
- Sebagai latihan membuat penelitian tindakan kelas
- Sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas mata kuliah Pemantapan Kemampuan Profesional ( PDGK 4501 ) Program S-1 PGSD Universitas Terbuka.

2. . Bagi siswa
- sebagai wujud pengalaman belajar yang berpusat pada subyek didik, dirasakan menyenangkan,
- bisa memacu aktivitas belajar,
- meningkatkan hasil belajar mengenai pemecahan masalah yang menyangkut menentukan KPK dan FPB

3. Bagi Guru
- Dapat mengetahui berbagai metode pembelajaran,sehingga menjadi peka terhadap dinamika di kelasnya
- Meningkatkan kinerja guru yang lebih profesional dan inovatif.

4. Bagi Sekolah
- Sebagai masukan Kepala Sekolah untuk mengambil kebijakan dalam menentukan hambatan dan kelemahan penyelenggaraan pembelajaran, sebagai upaya memperbaiki dan mengatasi masalah – masalah pembelajaran yang dihadapi di kelas sehingga dapat menemukan cara yang tepat untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dengan harapan akan diperoleh hasil belajar yang optimal demi kemajuan lembaga sekolah.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Karakteristik siswa Sekolah Dasar
Jean Piaget membagi tahap-tahap perkembangan kognitif ini menjadi empat (Gatot Muhsetyo,dkk : 2010 ; 1.9 ) yaitu:
a. Tahap sensori motor (0-2 tahun)
Pertumbuhan kemampuan anak tempat dari eaitan motorik dan persepsinya yang sederhana. Ciri pokok perkembangannya berdasaran tindakan, dan dilakukan angkah demi langkah.
b. Tahap pra operasional (2-7 tahun)
Ciri pokok perkembangan pada tahap ini adalah pada penggunaan simbol atau bahasa tanda, dan mulai berkembangnya konsep-konsep intuitif.
c. Tahap operasional konkret (7-11 tahun)
Ciri pokok perkembangan pada tahap ini adalah anak sudah mulai menggunakan aturan-aturan yang jelas dan logis dan ditandai adanya kekekalan. Anak sudah meiliki kecakapan berpikir logis, akan tetapi hanya dengan benda-benda yang bearsifat kongkret.
d. Tahap operasional (≥11 tahun)
Ciri pokok perkembangan pada tahap ini adalah anak sudah mampu berpikir abstrak dan logis dan menggunaan pola berpikir
Proses belajar yang dialami seorang anak pada tahap sensorimotor tentu akan berbeda dengan proses beajar yang dialami oeh seorang anak pada tahap pra operasional, dan aka berbeda pula dengan anak yang sudah berada pada tahap operasional, kongkret, maupun operasional formal. Semakin tinggi tahap perkembangan kognitif seseorang akan semakin teratur dan semakin abstrak cara berpikirnya.
Siswa sekolah dasar (SD) umurnya berkisar antara 6 atau 7 tahun sampai 12 atau 13 tahun. Menurut Piaget, mereka tampak pada fase operasional konkret. Kemampuan yang tampak pada fase ini adalah kemampuan dalam proses berpikir untuk mengoperasikan kaidah-kaidah logika, meskipun masih terikat dengan obyek yang bersifat konkret.
Dari usia perkembangan kognitif, siswa SD masih terikat dengan objek konkret yang dapat ditangkap oleh panca indera. Dalam pembelajaran matematika yang abstrak, siswa memerlukan alat bantu berupa media dan alat peraga yang dapat memperjelas apa yang akan disampaikan oleh guru sehingga lebih cepat dipahami dan dimengerti oleh siswa. Proses pembelajaran konkret dapat melalui tahapan konkret, semi konkret, semi abstrak dan selanjutnya abstrak.
Dalam matematika, setiap konsep yang abstrak yang baru dipahami siswa perlu segera diberi penguatan, agar mengendap dan tahan lama dalam memori siswa, sehingga akan melekat dalam pola piker dan pola tindakannya. Untuk keperluan inilah, maka diperlukan adanya pembelajaran melalui perbuatan dan pengertian tidak hanya sekedar hafalan atau mengingat fakta saja, karena hal ini akan mudah dilupakan siswa. Pepatah cina mengatakan, “ saya mendengar maka saya lupa, saya melihat maka saya tahu, saya berbuat maka saya mengerti “.
Teori Vigotsy berusaha mengembangkan teori Piaget dari belajar mandiri menjadi belajar kelompok. Kegiatan itu dapat berupa diskusi kelompok, tugas mengrjakan di depan 2-3 orang dalam waktu yang sama da untuk soal yang sama dsb. Dengan kegiatan yang beragam, peserta didik akan membangun pengetahuannya sendiri melalui membaca, diskusi, Tanya jawab, pengamatan, pencatatan, pengerjaan dan presentasi. (Gatot Muhsetyo,dkk : 2010 ; 1.11 )
Pembelajaran matematika yang diajarkan di SD merupakan matematika sekolah yang terdiri dari bagian-bagian matematika yang dipilih guna menumbuh kembangkan kemampuan-kemampuan dan membentuk pribadi anak serta berpedoman kepada perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Hal ini menunjukkan bahwa matematika SD tetap memiliki ciri-ciri yang dimiliki matematika, yaitu: (1) memiliki objek kajian yang abstrak (2) memiliki pola pikir deduktif konsisten. Matematika sebagai studi tentang objek abstrak tentu saja sangat sulit untuk dapat dipahami oleh siswa-siswa SD yang belum mampu berpikir formal, sebab orientasinya masih terkait dengan benda-benda konkret. Ini tidak berarti bahwa matematika tidak mungkin tidak diajarkan di jenjang pendidikan dasar, bahkan pada hakekatnya matematika lebih baik diajarkan pada usia dini
Mengingat pentingnya matematika untuk siswa-siswa usia dini di SD, perlu dicari suatu cara mengelola proses belajar-mengajar di SD sehingga matematika dapat dicerna oleh siswa-siswa SD. Disamping itu, matematika juga harus bermanfaat dan relevan dengan kehidupannya, karena itu pembelajaran matematika di jenjang pendidikan dasar harus ditekankan pada penguasaan keterampilan dasar dari matematika itu sendiri. Keterampilan yang menonjol adalah keterampilan terhadap penguasaan operasi-operasi hitung dasar (penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian). Dengan mengetahui karakteristik siswa Sekolah dasar seperti di atas maka guru pun juga harus memenuhi kompetensi sebagai berikut :
1. Penguasaan dalam pembelajaran matematika
2. Penguasaan dalam pelaksanaan evaluasi pembelajaran matematika
3. Penguasaan dalam pengembangan professional guru matematika
4. Penguasaan tentang posisi penopang dan pengembang guru matematika dan pembelajaran matematika

B. Pembelajaran Matematika di SD
1. Pengertian Matematika
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia matematika merupakan ilmu tentang bilangan-bilangan, hubungan antar bilangan dan prosedur operasional yang digunakan dalam penyelesaian masalah mengenai bilangan.
Salah satu dari Standar Kompetensi Lulusan SD pada mata pelajaran matematika yaitu, mampu melakukan operasi bilangan bulat dalam pemecahan masalah, serta penggunaannya dalam kehidupan sehari-haridengan kompetensi dasar menggunakan faktor prima untuk menentukan KPK dan FPB Depdiknas 2006. Berdasarkan uraian tersebut dapat dikatakan bahwa pemahaman guru tentang hakekat pembelajaran matematika di SD dapat merancang pelaksanaan proses pembelajaran dengan baik yang sesuai dengan perkembangan kognitif siswa, penggunaan media, metode dan pendekatan yang sesuai pula. Sehingga guru dapat menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif serta terselenggaranya kegiatan pembelajaran yang efektif
Untuk itu dalam pembelajaran matematika terdapat dua aspek yang perlu diperhatikan, yaitu: (1) matematika sebagai alat untuk menyelesaikan masalah, dan (2) matematika merupakan sekumpulan keterampilan yang harus dipelajari. Karena itu dua aspek matematika yang dikemukakan di atas, perlu mendapat perhatian yang proporsional. Konsep yang sudah diterima dengan baik dalam benak siswa akan memudahkan pemahaman konsep-konsep berikutnya. Untuk itu dalam penyajian topik-topik baru hendaknya dimulai pada tahapan yang paling sederhana ketahapan yang lebih kompleks, dari yang konkret menuju ke yang abstrak, dari lingkungan dekat anak ke lingkungan yang lebih luas

2. Tujuan Matematika
Tujuan pembelajaran matematika di SD dapat dilihat di dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan 2006 SD. Mata pelajaran matematika bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut, (1) memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algortima, secara luwes, akurat, efesien, dan tepat dalam pemecahan masalah, (2) menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika, (3) memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirikan solusi yang diperoleh, (4) mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah, (5) memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian dan minat dalam mempelajari matematika sifat-sifat ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.
Selain tujuan umum yang menekankan pada penataan nalar dan pembentukan sikap siswa serta memberikan tekanan pada ketrampilan dalam penerapan matematika juga memuat tujuan khusus matematika SD yaitu: (1) menumbuhkan dan mengembangkan ketrampilan berhitung sebagai latihan dalam kehidupan sehari-hari, (2) menumbuhkan kemampuan siswa, yang dapat dialihgunakan melalui kegiatan matematika, (3) mengembangkan kemampuan dasar matematika sebagai bekal belajar lebih lanjut, (4) membentuk sikap logis, kritis, cermat, kreatif dan disiplin.

C. FPB dan KPK beserta ruang lingkupnya
Rahadian (2009) menuliskan bahwa pengertianFPB (Faktor persekutuan terbesar) merupakan faktor-faktor pembagi yang paling besar dari suatu bilangan dan faktor pembagi itu sendiri adalah Angka-angka yang dapat membagi suatu bilangan. adalah Faktor Persekutuan Terbesar sedangkan pengertian dari KPK (Kelipatan Persekutuan Terkecil) adalah kelipatan dari suatu bilangan tapi yang nilainya paling kecil. Namun yang lebih singkatnya dalam pengertiannya KPK yakni bilangan yang bisa dibagi dan FPB bilangan yang bisa membagi. Maksudnya yakni bilangan FPB bisa Membagi KPK dan KPK bisa dibagi FPB.
Dalam pencarian FPB dan KPK biasanya menggunakan faktor prima dan faktorisasi prima dengan pola pohon faktor. Faktor prima adalah faktor-faktor suatu bilangan yang berbentuk bilangan prima. Faktorisasi prima merupakan perkalian dari semua faktor-faktor primanya. Cara menentukan faktor prima dengan membagi bilangan tersebut dengan bilangan prima sampai bersisa bilangan prima. Hal tersebut dinamakan pohon faktor.
Langkah-langkah pengerjaan FPB.
1. Menentukan faktorisasi prima dari bilangan-bilangan itu.
2. Mengambil faktor yang sama dari bilangan-bilangan itu.
3. Jika faktor yang sama pangkatnya berbeda, ambillah faktor yang pangkatnya terkecil.
Marilah kita terapkan untuk menyelesaikan masalah berikut. Pak Yudi memiliki 12 apel dan 18 jeruk. Apel dan jeruk tersebut akan dimasukkan ke dalam kantong plastik. Berapa kantong plastik yang dibutuhkan, jika setiap kantong berisi apel dan jeruk dengan jumlah yang sama? Untuk menjawab soal tersebut, kamu harus mencari FPB dari 12 dan 18.
Perhatikan pohon faktor berikut ini.

Faktorisasi prima dari 12 adalah 12 = 2 × 2 × 3 = 22 × 3.
Faktorisasi prima dari 18 adalah 18 = 2 × 3 × 3 = 2 × 32.
FPB dari 12 dan 18 adalah 2 × 3 = 6.
Jadi, kantong plastik yang diperlukan adalah 6 buah. Setiap kantong plastik
memuat 2 apel dan 3 jeruk, seperti terlihat pada gambar berikut.

Sekarang, kalian akan mempelajari cara menentukan FPB dari tiga bilangan.
Perhatikan contoh berikut.
Contoh 1
Tentukan FPB dari 12, 24, dan 42.
Jawab:

Faktorisasi prima dari 12 adalah 12 = 2 × 2 × 3 = 22 × 3.
Faktorisasi prima dari 24 adalah 24 = 2 × 2 × 2 × 3 = 23 × 3.
Faktorisasi prima dari 42 adalah 42 = 2 × 3 × 7.
Jadi, FPB dari 12, 24, 24, dan adalah 2 × 3 = 6.
Contoh 2
Tentukan FPB dari 15, 25, dan 60.
Jawab:

Faktorisasi prima dari 15 adalah 15 = 3 × 5.
Faktorisasi prima dari 25 adalah 25 = 5 × 5.
Faktorisasi prima dari 60 adalah 60 = 2 × 2 ×3 × 5 = 22 × 3 × 5.
Jadi, FPB dari 15, 25, dan 60 adalah 5.
Kemudian sekarang dengan cara cepatnya /cara dahsyatnya
Rumus:
FPB: yang besar dibagi yang kecil, sisanya itu FPB
KPK: yang besar dikali yang kecil dibagi FPB
FPB dan KPK dari 12 dan 16
FPB = 16 dibagi 12 , dapat 1 sisa 4 dan FPBnya adalah 4
KPK = 16 x 12 : 4 = 16 x 3 = 48
Cara menentukan Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK) dari dua bilangan dengan menggunakan faktorisasi prima telah kamu pelajari di Kelas IV. Ingatlah kembali materi tentang KPK tersebut karena kamu akan mempelajarinya lebih dalam di bab ini.
Pak Teguh mendapat tugas piket di sekolah setiap 12 hari sekali. Pak Didi mendapat tugas piket setiap 18 hari sekali. Tanggal 1 Juli 2011 mereka mendapat tugas piket secara bersamaan. Kapan mereka akan mendapat tugas piket secara bersamaan untuk yang kedua?
Untuk menjawab soal tersebut, kamu harus mencari KPK dari 12 dan 18.
Langkah-langkah menentukan KPK :
1. Tentukan faktorisasi prima dari bilangan-bilangan tersebut.
2. Ambil semua faktor yang sama atau tidak sama dari bilangan-bilangan tersebut.
3. Jika faktor yang sama memiliki pangkat berbeda, ambillah faktor yang pangkatnya terbesar.

Faktorisasi prima dari 12 adalah 12 = 2 × 2 × 3 = 22 ×3.
Faktorisasi prima dari 18 adalah 18 = 2 × 3 × 3 = 2 × 32.
KPK dari 12 dan 18 adalah 22 × 32 = 4 × 9 = 36.
Jadi, Pak Teguh dan Pak Didi akan mendapat tugas piket secara bersamaan
setiap 36 hari sekali. Coba kamu tentukan tanggal berapakah itu?
Kalian akan mempelajari cara mencari KPK dari tiga bilangan. Cara
menentukan KPK dari tiga bilangan sama seperti dalam mencari KPK dari dua
bilangan. Perhatikan contoh berikut.
Contoh
Tentukanlah KPK dari 8, 16, dan 40.
Jawab:

Faktorisasi prima dari 8 = 2 × 2 × 2 = 23.
Faktorisasi prima dari 16 = 2 × 2 × 2 × 2 = 24.
Faktorisasi prima dari 40 = 2 × 2 × 2 × 5 = 23 × 5.
KPK dari 8, 16, dan 40 adalah 24 × 5 = 16 × 5 = 80.
Jadi, KPK dari 8, 16, dan 40 adalah 80

D. Kemampuan Siswa
Berhitung Hampir semua kita mendapatkan kemampuan dasar ini di sekolah dasar bahkan sudah bisa diperoleh di taman-kanak-kanak. Yang dimaksud kemampuan berhitung adalah kemampuan menambah, mengurang, mengali, membagi, dan menggunakan rumus-rumus sederhana seperti menghitung luas lingkaran, segi tiga, segi empat dan bentuk lainnya.
Kemampuan berpikir yang dimaksud di sini adalah kemampuan menggunakan ragam proses berpikir untuk memberikan solusi terhadap persoalan yang dihadapi
Herdian, S.Pd, M.Pd (2010) mengemukakan bahwa kemampuan pemahaman matematis adalah salah satu tujuan penting dalam pembelajaran, memberikan pengertian bahwa materi-materi yang diajarkan kepada siswa bukan hanya sebagai hafalan, namun lebih dari itu dengan pemahaman siswa dapat lebih mengerti akan konsep materi pelajaran itu sendiri. Pemahaman matematis juga merupakan salah satu tujuan dari setiap materi yang disampaikan oleh guru, sebab guru merupakan pembimbing siswa untuk mencapai konsep yang diharapkan. Hal ini sesuai dengan Hudoyo yang menyatakan: “Tujuan mengajar adalah agar pengetahuan yang disampaikan dapat dipahami peserta didik“. Pendidikan yang baik adalah usaha yang berhasil membawa siswa kepada tujuan yang ingin dicapai yaitu agar bahan yang disampaikan dipahami sepenuhnya oleh siswa.
Pemahaman merupakan terjemahan dari istilah understanding yang diartikan sebagai penyerapan arti suatu materi yang dipelajari. Lebih lanjut Michener menyatakan bahwa pemahaman merupakan salah satu aspek dalam Taksonomi Bloom. Pemahaman diartikan sebagai penyerapan arti suatu materi bahan yang dipelajari. Untuk memahami suatu objek secara mendalam seseorang harus mengetahui: 1) objek itu sendiri; 2) relasinya dengan objek lain yang sejenis; 3) relasinya dengan objek lain yang tidak sejenis; 4) relasi-dual dengan objek lainnya yang sejenis; 5) relasi dengan objek dalam teori lainnya.
Ada tiga macam pemahaman matematik, yaitu : pengubahan (translation), pemberian arti (interpretasi) dan pembuatan ekstrapolasi (ekstrapolation). Pemahaman translasi digunakan untuk menyampaikan informasi dengan bahasa dan bentuk yang lain dan menyangkut pemberian makna dari suatu informasi yang bervariasi. Interpolasi digunakan untuk menafsirkan maksud dari bacaan, tidak hanya dengan kata-kata dan frase, tetapi juga mencakup pemahaman suatu informasi dari sebuah ide. Sedangkan ekstrapolasi mencakup estimasi dan prediksi yang didasarkan pada sebuah pemikiran, gambaran kondisi dari suatu informasi, juga mencakup pembuatan kesimpulan dengan konsekuensi yang sesuai dengan informasi jenjang kognitif ketiga yaitu penerapan (application) yang menggunakan atau menerapkan suatu bahan yang sudah dipelajari ke dalam situasi baru, yaitu berupa ide, teori atau petunjuk teknis.
Bloom mengklasifikasikan pemahaman (Comprehension) ke dalam jenjang kognitif kedua yang menggambarkan suatu pengertian, sehingga siswa diharapkan mampu memahami ide-ide matematika bila mereka dapat menggunakan beberapa kaidah yang relevan. Dalam tingkatan ini siswa diharapkan mengetahui bagaimana berkomunikasi dan menggunakan idenya untuk berkomunikasi. Dalam pemahaman tidak hanya sekedar memahami sebuah informasi tetapi termasuk juga keobjektifan, sikap dan makna yang terkandung dari sebuah informasi. Dengan kata lain seorang siswa dapat mengubah suatu informasi yang ada dalam pikirannya kedalam bentuk lain yang lebih berarti.
Ada beberapa jenis pemahaman menurut para ahli yaitu:
Polya, membedakan empat jenis pemahaman:
1. Pemahaman mekanikal, yaitu dapat mengingat dan menerapkan sesuatu secara rutin atau perhitungan sederhana.
2. Pemahaman induktif, yaitu dapat mencobakan sesuatu dalam kasus sederhana dan tahu bahwa sesuatu itu berlaku dalam kasus serupa.
3. Pemahaman rasional, yaitu dapat membuktikan kebenaran sesuatu.
4. Pemahaman intuitif, yaitu dapat memperkirakan kebenaran sesuatu tanpa ragu-ragu, sebelum menganalisis secara analitik.
Polattsek, membedakan dua jenis pemahaman:
1. Pemahaman komputasional, yaitu dapat menerapkan sesuatu pada perhitungan rutin/sederhana, atau mengerjakan sesuatu secara algoritmik saja.
2. Pemahaman fungsional, yaitu dapat mengkaitkan sesuatu dengan hal lainnya secara benar dan menyadari proses yang dilakukan.
Copeland, membedakan dua jenis pemahaman:
1. Knowing how to, yaitu dapat mengerjakan sesuatu secara rutin/algoritmik.
2. Knowing, yaitu dapat mengerjakan sesuatu dengan sadar akan proses yang dikerjakannya.

Skemp, membedakan dua jenis pemahaman:
1. Pemahaman instrumental, yaitu hafal sesuatu secara terpisah atau dapat menerapkan sesuatu pada perhitungan rutin/sederhana, mengerjakan sesuatu secara algoritmik saja.
2. Pemahaman relasional, yaitu dapat mengkaitkan sesuatu dengan hal lainnya secara benar dan menyadari proses yang dilakukan.
Pemahaman instrumental diartikan sebagai pemahaman konsep yang saling terpisah dan hanya hafal rumus dalam perhitungan sederhana. Dalam hal ini seseorang hanya memahami urutan pengerjaan atau algoritma. Sedangkan pemahaman relasional termuat skema atau struktur yang dapat digunakan pada penjelasan masalah yang lebih luas dan sifat pemakaiannya lebih bermakna.
Sedangkan pengetahuan dan pemahaman siswa terhadap konsep matematika menurut NCTM (1989 : 223) dapat dilihat dari kemampuan siswa dalam: (1) Mendefinisikan konsep secara verbal dan tulisan; (2) Mengidentifikasi dan membuat contoh dan bukan contoh; (3) Menggunakan model, diagram dan simbol-simbol untuk merepresentasikan suatu konsep; (4) Mengubah suatu bentuk representasi ke bentuk lainnya; (5) Mengenal berbagai makna dan interpretasi konsep; (6) Mengidentifikasi sifat-sifat suatu konsep dan mengenal syarat yang menentukan suatu konsep; (7) Membandingkan dan membedakan konsep-konsep.
Pemahaman matematis penting untuk belajar matematika secara bermakna, tentunya para guru mengharapkan pemahaman yang dicapai siswa tidak terbatas pada pemahaman yang bersifat dapat menghubungkan. Menurut Ausubel bahwa belajar bermakna bila informasi yang akan dipelajari siswa disusun sesuai dengan struktur kognitif yang dimiliki siswa sehingga siswa dapat mengkaitkan informasi barunya dengan struktur kognitif yang dimiliki. Artinya siswa dapat mengkaitkan antara pengetahuan yang dipunyai dengan keadaan lain sehingga belajar dengan memahami.

D. Metode Pembelajaran Tanya Jawab
Metode Tanya jawab dapat diartikan suatu kegiatan pembelajaran yang membuat suatu topik atau masalah yang dilakukan guru dan siswa sebagaimana yang diharapkan agar siwa tidak pasif lagi dalam belajarnya agar dapat menghasilkan nilai yang memuaskan.
Metode tanya jawab adalah metode mengajar yang memungkinkan terjadinya komunikasi langsung yang bersifat two way traffic sebab pada saat yang sama terjadi dialog antara guru dan siswa. Guru bertanya siswa menjawab atau siswa bertanya guru menjawab. Dalam komunikasi ini terlihat adanya hubungan timbal balik secara langsung antara guru.
Beberapa hal yang penting diperhatikan dalam metode tanya jawab ini antara lain:
1. Tujuan yang akan dicapai dari metode tanya jawab.
1. Untuk mengetahui sampai sejauh mana materi pelajaran yang telah dikuasai oleh siswa.
2. Untuk merangsang siswa berfikir.
3. Memberi kesempatan pada siswa untuk mengajukan masalah yang belum dipahami.

2. Jenis pertanyaan.
Pada dasarnya ada dua pertanyaan yang perlu diajukan, yakni pertanyaan ingatan dan pertanyaan pikiran:
1. Pertanyaan ingatan, dimaksudkan untuk mengetahui sampai sejauh mana pengetahuan sudah tertanam pada siswa. Biasanya pertanyaan berpangkal kepada apa, kapan, di mana, berapa, dan yag sejenisnya.
2. Pertanyaan pikiran, dimaksudkan untuk mengetahui sampai sejauh mana cara berpikir anak dalam menanggapi suatu persoalan. Biasanya pertanyaan ini dimulai dengan kata mengapa, bagaimana.

3. Teknik mengajukan pertanyaan.
Berhasil tidaknya metode tanya jawab, sangat bergantung kepada tehnik guru dalam mengajukan pertanyaanya. Metode tanya jawab biasanya dipergunakan apabila:
1. Bermaksud mengulang bahan pelajaran.
2. Ingin membangkitkan siswa belajar.
3. Tidak terlalu banyak siswa.
4. Sebagai selingan metode ceramah.
5. penyelidikan yang mengarahkan siswa beripikir secara ilmiah
6. pertanyaan fakta atau masalah dapat mengarahkan belajar seperti yang dituju oleh suatu mata pelajaran yang dapat membantu siswa mengetahui bagian-bagian yang perlu diketahui dan diingat
7. pertanyaan dapat digunakan untuk tujuan latihan dan mengulang
8. siswa belajar menjawab pertanyaan dengan benar,
9. siswa juga diajak berani bertanya untuk kepentingan proses belajar mengajar dalam kehidupan bermasyarakat.
10. Selain itu siswa belajar mengemukakan pertanyaan yang layak dan menghargai pertanyaan orang lain .
11. Pertanyaan-pertanyaan oleh guru atau siswa dapat menimbulkan suasana kelas hidup dan gembira . siswa memperoleh kesempatan ikut berpartisipasi dalam proses kegiatan belajar mengajar .dari jawaban-jawaban yang diperoleh, dapat merupakan umpan balik bagi guru mengenai pengetahuan, sikap dan sifat-sifat siswa serta hasil proses belajar mengajarnya.

4. Kelebihan metode tanya jawab
1. Peserta didik dapat mengembangkan keberanian dan ketrampilan dalam menjawab dan mengemukakan pendapat.
2. Pertanyaan yang dilontarkan dapat menarik dan memusatkan perhatian peserta didik, sekalipun ketika itu peserta didik sedang rebut.
3. Merangsang peserta didik untuk berlatih mengembangkan daya pikir, termasuk daya ingatan.
4. Pertanyaan yang jelas lebih mudah dipahami peserta didik

5. Kekurangan metode tanya jawab
1. Banyak waktu terbuang.
2. Apabila peserta didik tidak siap, maka peserta didik merasa takut, dan apalagi bila guru kurang dapat mendorong peserta didik, maka peserta didik juga menjadi tidak berani untuk bertanya.
3. Terbatasnya jumlah waktu untuk memberikan pertanyaan kepada setiap peserta didik. Selanjutnya metode diskusi.

6. Langkah-langkah penggunaan metode Tanya jawab
1)Persiapan
a) menentukan topik
b) merumuskan tujuan pembelajaran khusus (TPK)
c) menyusun pertanyaan-pertanyaan secara tepat sesuai dengan TPK tertentu
d) mengidentifikasi pertanyaan-pertanyaan yang mungkin diajukan siswa
2) Pelaksanaan
a) menjelaskan kepada siswa tujuan pembelajaran khusus (TPK)
b) mengkomunikasikan penggunaan metode tanya jawab (siswa tidak hanya bertanya tetapi juga menjawab pertanyaan guru maupun siswa yang lain)
c) guru memberikan permasalahan sebagai bahan apersepsi
d) guru mengajukan pertanyaan keseluruh kelas
e) guru harus memberikan waktu yang cukup untuk memikirkan jawabannya,sehingga dapat merumuskan secara sistematis
f) tanya jawab harus berlangsung dalam suasana tenang, dan bukan dalam suasana yang tegang dan penuh persaingan yang tak sehat di antara para siswa
g) pertanyaan dapat ditujukan pada seorang siswa atau seluruh kelas, guru perlu menggugah siswa yang pemalu atau pendiam, sedangkan siswa yang pandai dan berani menjawab perlu dikendalikan untuk memberi kesempatan pada yang lain
h) guru mengusahakan agar setiap pertanyaan hanya berisi satu masalah saja
i) pertanyaan ada beberapa macam, yaitu pertanyaan pikiran, pertanyaan mengungkapkan kembali pengetahuan yang dikuasai, dan pertanyaan yang meminta pendapat, perasaan, sikap, serta pertanyaan yang hanya mengungkapkan fakta-fakta saja.

7. Beberapa cara mengajukan pertanyaan:
1. gunakan variasi pertanyaan yang terbuka dan tertutup .
2. gunakan bahasa yang baik dan benar serta pilihlah kata-kata secara cermat.
3. dengarkan baik-baik jawaban anak-anak. sikap mengatakan dengan kata-kata lain. pertanyaan- pertanyaan anak dan mengarahkannya kembali.
4. jaga pertanyaan supaya pendek dan sederhana .
5. mulailah dari apa yang sudah diketahui murid-murid.
6. akui bila anda sendiri tidak tahu, tetapi kemudian usahakan mendapatkan jawabannya.
7. angkat tangan dan seorang tiap kali untuk mendapat jawaban.
8. berikan setiap orang kesempatan untuk menjawab pada waktu tertentu.
9. waspada terhadap pengalihan perhatian atau jawaban yang “tolol” dan usahakan untuk meredamnya.
10. gunakan kata-kata yang sederhana dan mudah dimengerti.
11. jagalah agar pertanyaan itu singkat

8. Metode Tanya jawab pada pembelajaran matematika ternyata memberikan beberapa manfaat dalam meningkatkan hasil belajar siswa, antara lain:
1. Pembelajaran berlangsung lebih efektif.
2. Keaktifan siswa lebih meningkat.
3. Terjadi interaksi yang positif antara siswa dengan siswa dan antara siswa dengan guru.
4. Proses pembelajaran berjalan lebih terarah dan lebih menarik.
5. Pemahaman dan hasil belajar siswa dalam menentukan KPK dan FPB meningkat

BAB III
PELAKSANAAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN

A. Subyek Penelitian
1. Lokasi Penelitian
- Bertempat di Sekolah Dasar Negeri Sidomukti II Kecamatan Kasiman Kabupaten Bojonegoro. Lokasi tersebut adalah unit kerja penyusun laporan, sehingga memudahkan penyusun untuk melakukan penelitian tindakan kelas.
- Kondisi sekolah terletak di pedesaan yang dikelilingi persawahan. Tingkat ekonomi keluarga siswa adalah beragam. Sebagian besar orang tua murid bermata pencaharian sebagai petani dan pedagang. Materi Matematika yang dibelajarkan kepada siswa selama ini lebih banyak bersifat verbalistik dan belum dapat mengaktifkan siswa dalam pembelajaran.
2. Waktu Penelitian
- Waktu penelitian berlangsung pada bulan Agustus sampai September 2011.
3. Mata Pelajaran
- Fokus dari penelitian ini adalah pembelajaran Matematika Kelas V semester I Tahun Pelajaran 2011/2012, khususnya pada materi bilangan bulat dalam menentukan KPK dan FPB dengan faktor prima
4. Kelas
- Peneliti mengajar kelas V, sehingga subyek penelitian adalah siswa kelas V sebanyak 7 orang, terdiri dari 3 siswa putra dan 4 siswa putri.
5. Alur dan karakteristik per siklus
Siklus I
Perencanaan

Tindakan

Pengamatan

Refleksi

Siklus II
Perencanaan

Pelaksanaan Tindakan

Pengamatan

Refleksi

6. Jadwal perbaikan
Jadwal pelaksanaan Siklus I dan Siklus II sebagai berikut :
Table 3.1 jadwal perbaikan pembelajaran
No Hari/tanggal Jam ke Waktu siklus
1 16 Agustus 2011 1 -2 07.00 – 07.35
07.35 – 08.10 I
2 23 Agustus 2011 1- 2 07.00 – 07.35
07.35 – 08.10 II

7. Karakteristik Siswa
Siswa kelas V SDN Sidomukti II Kecamatan Kasiman Kabupaten Bojonegoro termasuk dalam kategori anak pada masa pertumbuhan oleh sebab itu diperlukan pengawasan dan bimbingan terhadap mereka. Pada masa ini anak memiliki karakteristik dan kepribadian yang berbeda-beda. Karakteristik siswa kelas V yaitu :
a. Memiliki Pola Pikir sederhana
b. Masih dalam taraf Perkembangan dan Pertumbuhan
c. Senang terhadap sesuatu yang baru dan menyenangkan
d. Suka meniru terhadap apa yang diperoleh
e. Masih dalam tahap bermain sambil belajar
Selain itu ada beberapa faktor yang mempengaruhi kepribadian siswa kelas V, antara lain :
1. Fisik, Faktor fisik yang dapat mempengaruhi karakter dan kepribadian anak adalah postur tubuh, kesehatan, keutuhan tubuh dan keberfungsian tubuh.
2. Intelegensi, Tingkat intelegensi individu mempengaruhi perkembangan kepribadian. Anak yang memiliki intelegensi tinggi akan lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungannya daripada anak yang memiliki intelegensi rendah.
3. Keluarga, Suasana atau iklim keluarga yang penting bagi perkembangan kepribadian anak. Seorang anak yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang harmonis akan memiliki karekteristik dan kepribadian yang cenderung positif, tetapi anak yang dikembangkan dalam lingkungan yang tidak harmonis atau broken home cenderung mengalami kelainan dalam penyesuaian dengan lingkungannya.
4. Kebudayaan, tiap kelompok masyarakat memiliki tradisi, adat, dan kebudayaan yang berbeda. Pengaruh kebudayaan memberikan efek bagi karakteristik dan kepribadian baik positif dan negatif.
Berdasarkan data tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran Matematika dengan menggunakan metode Tanya jawab diduga dapat meningkatkan pemahaman dan kemampuan siswa SDN Sidomukti II Kecamatan Kasiman Kabupaten Bojonegoro.

Table 3.2 data nilai awal siswa
No Nama Siswa Nilai Jenis Kelamin Kemampuan
KKM B S R
1 Bayu Heri Setiono 50/70 L √
2 M. Efendi Pradana 60/70 L √
3 Niswatun Aniroh 80/70 P √
4 Ajeng Sulistyaningrum 80/70 P √
5 Sri Rahayuningsih 60/70 P √
6 M. Luthfi Aziz 60/70 L √
7 Siti Darwati 50/70 P √
Jumlah Laki-laki 3
Jumlah Perempuan 4
Jumlah total 7
Sumber : data siswa SDN Sidomukti II Kec. Kasiman
Berdasarkan table di atas , dapat dibaca bahwa kemampuan awal siswa pada pelajaran matematika materi KPK dan FPB di SDN Sidomukti II bervariasi. Dari 7 siswa ada 2 siswa yang mencapai kriteria baik dan 5 siswa rendah.

B. Deskripsi Per Siklus
Praktik pembelajaran dibagi menjadi dua tahapan, yaitu siklus I dan siklus II. Siklus I terdiri dari atas empat komponen, yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Siklus II terdiri dari atas empat komponen, yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi Keempat tahap dalam sebuah PTK dapat digambarkan seperti pada gambar 1 berikut ini.

Gambar 1. Model Penelitian Tindakan Kelas V
Keterangan :
P : Perencanaan RP : Revisi Perencanaan
T : Tindakan O : Pengamatan
R : Refleksi
Prosedur penelitian ini menggunakan metode Tanya jawab pada siswa kelas V semester I SDN Sidomukti II Kecamatan Kasiman Kabupaten Bojonegoroo Tahun Pelajaran 2011/2012.

• Proses Tindakan pada Siklus I
Proses penelitian Tindakan Kelas V ini mengikuti model yang dikembangkan oleh Kemmis dan Tonggrat (Madya,1994) yaitu siklus spiral yaitu terdiri atas empat tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaann, pengamatan/pengumpulan data, dan refleksi. Proses penelitian tersebut dapat diuraikan sebagai berikut.

1. Perencanaan
Langkah pertama yang dilakukan dalam penelitian ini adalah tahap perencanaan. Perencanaan ini dilakukan sebagai upaya memecahkan segala permasalah yang ditemukan pada refleksi awal dan segala sesuatu yang perlu dilakukan pada tahap tindakan. Dengan adanya perencanaan, tindakan pembelajaran yang akan dilakukan akan lebih terarah dan sistematis.

Tabel 3.3
Kegiatan Khusus Yang Dilaksanakan Guru Dalam Perbaikan Pembelajaran
Mata Pelajaran Matematika
Siklus Masalah Yang Dihadapi Tindakan Khusus
I Siswa kurang memahami dalam menentukan KPK dan FPB - Memberikan penjelasan konsep menentukan KPK dan FPB.
- Membuktikan konsep menentukan KPK dan FPB dengan menggunakan pohon faktor ( faktor prima dan faktorisasi prima )

2. Pelaksanaan
Tindakan merupakan pelaksanaan rencana pembelajaran yang telah dipersiapkan. Urutan pelaksanaan tindakan sebagai berikut:
a. Guru bertanya jawab dengan siswa tentang materi yang pernah dipelajari siswa, yang ada kaitannya dengan materi yang akan diberikan dan memotivasi siswa sebagai langkah awal dalam pembelajaran.
b. Menjelaskan materi pokok perbaikan.
c. Membuktikan hasil menentukan KPK dan FPB.
d. Bertanya jawab dari hasil pembuktian menentukan KPK dan FPB.
e. Menjelaskan cara mengerjakan soal-soal latihan pada lembar kerja.
f. Siswa mengerjakan soal-soal latihan yang ada pada lembar kerja.
g. Membahas soal-soal yang dikerjakan siswa dari lembar kerja.
h. Memberikan evaluasi.
i. Memberikan tugas untuk dikerjakan di rumah.

3. Pengamatan / pengumpulan data
Pengamatan adalah mengamati hasil atau dampak dari tindakan-tindakan yang dilakukan siswa dalam proses pembelajaran menentukan KPK dan FPB. Pengamatan pada siklus I ini dilihat dari data tes dan nontes. Data tes berupa tes. Data nontes diperoleh dengan menggunakan pedoman pengamatan, wawancara, dan dokumentasi foto.

4. Refleksi
Refleksi dilakukan pada akhir pembelajaran. Kegiatan ini dilakukan sebagai upaya untuk mengkaji dan mempertimbangkan hasil yang telah terjadi pada tahap tindakan. Dalam hal ini, peneliti melakukan analisis terhadap hasil tes dan nontes yang berupa hasil Pengamatan, jurnal guru, dokumentasi, dan hasil wawancara yang telah dilakukan. Refleksi ini memberikan gambaran kekurangan atau kelemahan pada siklus I sehingga nantinya dapat dicari pemecahannya dan mempertahankan atau meningkatkan kelebihan yang terdapat dalam siklus I.
Berdasarkan hasil penelitian dari teman sejawat dengan menggunakan format Pengamatan yang tersedia dapat diperoleh penyebab kegagalan pembelajaran siklus I .
1.Guru menerangkan hanya menggunakan metode ceramah.
2. Guru kurang menarik perhatian siswa
3. Guru kurang memberi kesempatan siswa bertanya
4. Guru kurang memberikan penjelasan yang mudah dimengerti siswa
Dalam pelaksanaan pembelajaran siklus I guru dalam penyampaian materi menggunakan metode ceramah sehinga hasilnya belum memenuhi tujuan yang diharapkan, guru kurang banyak memberikan motivasi dengan jalan memberikan banyak bahan acuan dan kurang banyak dalam memberikan tugas, sehingga kemampuan siswa dalam mengerjakan soal KPK dan FPB kurang maksimal. hal ini terlihat dari hasil nilai yang diperoleh siswa dalam mengerjakan soal evaluasi, yang mendapat nilai diatas 70 sebanyak 3 anak atau mencapai 42% , yang 4 anak mendapat nilai 70 ke bawah atau mencapai 58 %. Dari hasil tersebut di atas peneliti dan teman sejawat sepakat mengadakan perbaikan pembelajaran siklus II.

• Proses Tidakan pada Siklus II
Proses tindakan siklus II merupakan kelanjutan dari siklus I. Proses tindakan siklus II dilaksanakan dengan memperhatikan hasil refleksi siklus I. Berdasarkan refleksi siklus I telah dijabarkan kekurangan-kekurangan yang memerlukan perbaikan dalam pembelajaran matematika dalam menentukan KPK dan FPB untuk itu dilaksanakanlah siklus II. Pelaksanaan siklus II melalui tahap yang sama dengan siklus I, yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi.

1. Perencanaan
Perencanaan yang dilaksanakan pada siklus II ini merupakan perbaikan dari perencanaan pada siklus I. Perbaikan-perbaikan yang dilaksanakan sebagai bentuk perencanaan pada siklus II ini meliputi : Rencana kegiatan peneliti terdiri dari (1) menyusun rencana perbaikan pembelajaran siklus II melalui teknik tanya jawab, (2) menyusun instrument penilaian yaitu meliputi tes tulis, lembar pengamatan, wawancara, jurnal guru, dan dokumentasi foto yang akan digunakan dalam pembelajaran, (3) menentukan metode Tanya jawab, (4) memberikan hadiah kepada siswa jika dapat mengerjakan tes dengan tepat, (5) memotivasi siswa agar lebih bersemangat dalam kegiatan pembelajaran matematika materi menentukan KPK dan FPB, (6) menyusun rancangan evaluasi program.

2. Pelaksanaan
Tindakan yang dilaksanakan peneliti dalam proses pembelajaran menentukan KPK dan FPB pada siklus II ini sesuai dengan tindakan dengan perencanaan yang telah disusun. Tindakan yang dilaksanakan peneliti secara garis besar adalah melaksanakan proses pembelajaran dengan metode Tanya jawab. Tindakan ini meliputi tiga tahap, yaitu apersepsi, inti pembelajaran, dan penutup.

Siklus Masalah Yang Dihadapi Tindakan Khusus
II Siswa kurang memahami dalam menentukan KPK dan FPB - Memberikan penjelasan konsep menentukan KPK dan FPB.
- Memberikan penjelasan cara dahsyat rumus FPB dan KPK
- Membuktikan konsep menentukan KPK dan FPB dengan menggunakan pohon faktor ( faktor prima dan faktorisasi prima )
- Mengerjakan soal yang berkaitan dengan KPK dan FPB soal cerita dengan media sederhana

Pertama, tahap apersepsi. Tahap ini digunakan sebagai awal pembelajaran Guru mengkondisikan siswa untuk siap mengikuti proses pembelajaran. Guru memberikan penjelasan kepada siswa mengenai langkah-langkah dan tujuan pembelajaran. Kemudian siswa diberi bimbingan dan arahan agar dalam pelaksanaan kegiatan anak-anak mengikuti dengan baik sehingga diperoleh hasil yang maksimal dan memuaskan. Kedua, tahap inti pembelajaran. Kegiatan pembelajaran siklus II ini dilakukan dengan tahap-tahap sebagai berikut : (1) Guru bertanya jawab dengan siswa tentang materi yang pernah dipelajari siswa, yang ada kaitannya dengan materi yang akan diberikan dan memotivasi siswa sebagai langkah awal dalam pembelajaran.(2) Guru menjelaskan materi pokok perbaikan.(3) Membuktikan hasil menentukan KPK dan FPB.(4) Bertanya jawab dari hasil pembuktian menentukan KPK dan FPB. (5) Menjelaskan cara mengerjakan soal-soal latihan pada lembar kerja. (6) Siswa mengerjakan soal-soal latihan yang ada pada lembar kerja.(7) Membahas soal-soal yang dikerjakan siswa dari lembar kerja. (8) Memberikan evaluasi. (9)Memberikan tugas untuk dikerjakan di rumah tahap selanjutnya (10) guru merefleksi pembelajaran tersebut.
Pada tahap terakhir yaitu penutup. Pada tahap ini meliputi beberapa bagian, antar lain : (1) guru dan siswa mendiskusikan manfaat dari kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan, (2) guru bertanggungjawab kepada siswa tentang kesulitan menentukan KPK dan FPB (3) guru dan siswa mengadakan refleksi sebagai bahan evaluasi.

3. Pengamatan
Pada siklus II ini selama proses pembelajaran berlangsung, siswa tetap diamati. Pengamatan dilakukan untuk peningkatan hasil tes dan perilaku siswa. Pengamatan ini adalah mengamati kegiatan dan tingkah laku siswa selama penelitian berlangsung. Dalam melakukan pengamatan peneliti dibantu oleh teman sejawat seperti siklus I. sasaran yang diamati meliputi perubahan sikap siswa selama kegiatan pembelajaran, yang berupa jurnal guru, dan hasil wawancara yang dilakukan setelah pembelajaran selesai. Pengamatan ini sesuai pedoman Pengamatan, dokumentasi foto, jurnal guru, dan wawancara pada siklus I.
4. Refleksi
Refleksi pada siklus II merupakan koreksi dan perenungan akhir dalam penelitian ini. Semua kendala atau kelemahan tentang pembelajaran menentukan KPK dan FPB melalui metode Tanya jawab ditemukan mulai dari awal sampai dengan hasil akhir pada siklus I akan diatasi pada siklus II.
Refleksi dilakukan untuk mengetahui keefektifan teknik pembelajaran menentukan KPK dan FPB, untuk melihat peningkatan kemampuan menentukan KPK dan FPB dan mengetahui perubahan perilaku siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran.
Dalam pelaksanaan pembelajaran siklus II guru telah berhasil memotivasi siswa, hal ini terlihat dari kemampuan siswa dalam menyeleseikan soal yang berkaitan dengan KPK dan FPB dengan tepat

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Per Siklus
• Siklus I
1. Perencanaan
Pada siklus I telah dilaksanakan pembelajaran matematika dengan pokok materi Kelipatan PersekutuanTerkecil (KPK) dan Faktor Persekutuan Terbesar (FPB) dengan menggunakan metode ceramah pada siswa ternyata dibawah dari 50 %. Dengan kenyataan ini masih berada jauh dari standar ketuntasan. Dinyatakan tuntas jika siswa mampu mencapai 70 %. Maka dalam hal ini penulis sebagai pendidik tentu berusaha memperbaiki hasil belajar agar meningkat. Karena masih banyak siswa yang memperoleh nilai dibawah dari standar ketuntasan dan belum memuaskan, maka segera dilakukan lagi perubahan secara menyeluruh, baik itu berupa metode, alat peraga yang tepat, evaluasi yang akurat, maupun cara komunikasi penyampaian materi lebih terpokus.
Memang pada siklus I penulis dalam menyajikan pembelajaran dengan alat peraga yang sangat sederhana dan penjelasan materi pembelajaran belum banyak dipahami mengingat waktu yang terbatas maka timbullah dalam hati penulis bertanya pada diri sendiri apakah alat Bantu yang tepat dalam penjelasan materi KPK dan FPB ini dilakukan. Kemudian bagaimana mengupayakan bahasa yang dapat direspon oleh siswa agar pembelajaran dapat tercapai dengan optimal.
Dengan demikian penulis sudah menemukan solusi dalam teknik penyajian materi pembelajaran pada siklus I.

2. Pelaksanaan
Kegiatan Pelaksanan :
Siklus I : Matematika
Konsep : Membandingkan tingkat penguasaan / kemampuan siswa terhadap materi yang dipersiapkan untuk masing – masing siswa secara individual.
Fokus : Bagaimana meningkatkan kemampuan penguasaan siswa terhadap pelajaran matematika tentang materi menentukan KPK dan FPB dengan menggunakan metode tanya jawab
Tabel 4.1 . Pelaksanaan Perbaikan Pembelajaran Matematika Materi menentukan KPK dan FPB pada siswa kelas V SDN Sidomukti II Kec. Kasiman Kab. Bojonegoropada Siklus I.
No. Kegiatan Pelaksanaan
1. Rencana Tindakan - Menyusun Rencana Perbaikan Pembelajaran
- Menyiapkan materi
- Mengevaluasi kesiapan siswa
- Menyusun pertanyaan
2. Pelaksanaan Tindakan - Melaksanaan pembelajaran matematika materi menentukan KPK dan FPB dengan menggunakan cara faktorisasi prima.
- Mengamati dan mengidentifikasi kemampuan dan kesulitan siswa dalam proses pembelajaran.
- Mengadakan evaluasi
3. Obsevasi - Melakukan observasi terhadap pembelajaran
4. Refleksi - Melakukan refleksi terhadap pembelajaran.
- Melakukan refleksi terhadap hasil belajar siswa.

Tabel 4.2. Tahapan Kegiatan Perbaikan Pembelajaran Matematika materi menentukan KPK dan FPB dengan menggunakan faktorisasi prima dengan strategi tanya jawab pada siswa Kelas V SDN Sidomukti II Kec. Kasiman Kab. Bojonegoro.
No. Tahapan kegiatan Tujuan Hasil yang dicapai waktu
1. Awal Mengidentifikasi masalah Tindakan memperbaiki hasil pembelajaran Selasa
09-08-2011
2. Rencana tindakan - Menyusun rencana perbaikan - Guru dapat membuat RP.
- Menyediakan materi tes.
- Menggunakan alat peraga yang sederhana.
- Menyiapkan materi tes Kamis
11-08-2011
3. Pelaksanaan tindakan Melaksanakan pembelajaran sesuai rencana dengan menggunakan strategi pemberian tugas Pembelajaran berjalan sesuai dengan tahapan dan rencana. Selasa
16-08-2011
4. Observasi - Mengobsevasi kegiatan pembelajaran yang berhubungan dengan kegiatan guru
-Pemanfaatan waktu yang efektif.
- Pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan RP.
- Pengamatan terhadap kemampuan individual siswa. Hasil observasi dapat diperoleh dengan bantuan teman sejawat Selasa
16-08-2011
5. Refleksi Mengawasi semua aktivitas dan mencatat hasil pengamatan yang berhubungan dengan aktivitas. Hasil refleksi ada pada lembar obsevasi siklus I Selasa
16-08-2011

Tabel 4.3. : Hasil Belajar Siswa pada Perbaikan Pembelajaran Matematika materi Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK) dan Faktor Persekutuan Terbesar (FPB), melalui strategi pemberian tugas pada siswa kelas V SDN Sidomukti II Kec. Kasiman Kab. Bojonegoropada Siklus I
No. Nama Siswa Jawaban yang benar Nilai Presentase (%) Keterangan

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
Bayu heri Setiono
M. Efendi Pradana
Niswatun Aniroh
Ajeng Sulistyaningrum
Sri Rahayuningsih
M. Lutfi Aziz
Siti darwati
5
7
7
9
5
6
5

50
70
70
90
50
60
50

50
70
70
90
50
60
50
Belum Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Belum Tuntas
Belum Tuntas
Belum tuntas
440 440
62,8 62,8 Belum tuntas
KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal): 70

Tabel 4.4. : Rekapitulasi Hasil Belajar Siswa pada Perbaikan Pembelajaran Matematiaka FPB dan KPK menggunakan metode tanya jawab siswa kelas V SDN Sidomukti II Kec. Kasiman Kab. Bojonegoro pada Siklus I.
No . Nilai Jumlah siswa Jumlah nilai Presentase
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11. 0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
100
0
0
0
0
0
3
1
2
0
1
0
-
-
-
-
-
150
60
140
-
90
- -
-
-
-
-
43%
14%
29%

14%
-

7 440 100%

Tabel 4.5 : Data Kelompok Siswa yang dinyatakan Tuntas Belajar Mata Pelajaran Matematika Kelas IV Semester I Pokok Bahasan : FPB dan KPK Siklus I.
No. Kelompok Nilai Siswa Keterangan
1.
2. < 70 %
≥ 70 % 4 orang
3 orang Belum tuntas
Tuntas
JUMLAH 7 orang

Table 4.6 Lembar Pengamatan Pembelajaran Siklus I
Tempat Pelaksanaan : SDN Sidomukti 02 Kec. Kasiman
Kelas : V
Mata Pelajaran : Matematika
Hari/tanggal : selasa,16 Agustus 2011
Jam ke : 1-2
Jumlah Siswa : 7 Siswa
No Kegiatan Keberadaan Kualitas
Ya Tidak Baik Cukup Kurang
1

2

3

4 Apakah siswa telah siap mendapatkan pelajaran
Apakah siswa memperhatikan pelajaran guru
Apakah siswa aktif dalam pembelajaran
Apakah siswa memahami penjelasan guru 

 

No Kegiatan Keberadaan Kualitas
Ya Tidak Baik Cukup Kurang
1

2
3

4

5
6
7

8

9 Menentukan penataan ruang dan fasilitas belajar
Memulai pembelajaran dengan apersepsi
Melaksanakan pembelajaran yang sesuai dengan tujuan, siswa,situasi dan lingkungan
Memicu dan memelihara keterlibatan siswa
Memantapkan pengusaan materi dan pembelajaran
Menentukan metode pembelajaran
Menentukan cara-cara memotivasi siswa
Memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya 



 


Pada pelaksanaan pembelajaran siklus I minat siswa mengikuti pelajaran kurang, hal ini terlihat dari belum semuanya siswa dapat menyelesaikan soal mengenai KPK dan FPB yang diberikan guru dengan batas waktu yang telah ditentukan. Guru kurang banyak memberikan motivasi dalam memberikan tugas kepada siswa sehingga kemampuan siswa dalam memahami soal kurang maksimal, hal ini terlihat dari hasil ini yang diperoleh siswa dalam mengerjakan soal evaluasi. Siswa yang mendapat nilai diatas 70 sebanyak 3 siswa dari 7 siswa atau mencapai 42 %, sedangkan yang 4 siswa mendapat nilai 70 ke bawah atau mencapai 58 %. Sehingga peneliti perlu mengadakan perbaikan siklus II. Berikut ini dicantumkan daftar nilai evaluasi dan taraf seraf siklus I

Table 4.7 Hasil Pengamatan Pembelajaran Dan Taraf Serap Siklus I
No Nama Siklus I Taraf Seraf Keterangan
1 Bayu heri Setiono 50 50 Pada pembelajaran siklus I guru kurang berinteraksi dengan siswa melalui Tanya jawab dengan sehingga kemampuan siswa dalam menjawab soal kurang maksimal hal ini terlihat dari hasil nilai yang diperoleh siswa soal evaluasi. Siswa yang mendapat 70 ke atas sebanyak 3 siswa dari 7 siswa atau hanya mencapai 42 % dari jumlah siswa.
2 Muh. Effendi Pradana 70 70
3 Niswatun Aniroh 70 70
4 Ajeng sulistyaningrum 90 90
5 Sri Setyaningsih 50 50
6 M.lutfi aziz 60 60
7 Siti Darwati 50
50

Jumlah 440
Rata-rata 62,8

Berdasarkan data yang terkumpul dapat disimpulkan bahwa pada perbaikan pembelajaran siklus I peneliti kurang banyak memberikan penjelasan dan memberi kesempatan anak bertanya pada kesulitan yang mereka alami dalam menentukan KPK dan FPB
Diagram Batang 1 :
Rekapitulasi Hasil Belajar Siswa pada Perbaikan Pembelajaran Matematika materi FPB dan KPK menggunakan Strategi Tugas Individual siswa kelas V SDN Sidomukti II Kec. Kasiman Kab. Bojonegoro pada Siklus I

4. Refleksi
Berdasarkan data yang terurai diatas diperoleh 4 orang yang dinyatakan belum tuntas dan 3 orang yang dinyatakan sudah tuntas dengan nilai rata-rata kelas 62,8 sehingga penulis perlu melakukan siklus ke II

• Siklus II
1. Perencanaan
Bahwasanya strategi secara individual pada siklus II, penulis menjelaskan materi pokok dengan menggunakan alat praga dengan menggunakan metode bervariasi , disamping itu adanya Tanya jawab, juga adanya metode demontrasi. Ditambah lagi dengan contoh-contoh yang banyak dan terarah. Sehingga pada pertemuan siklus II siswa memperoleh hasil belajar sangat meningkat dan memuaskan dengan rata-rata 85.

2. Pelaksanaan
Siklus II : Matematika
Konsep : Membandingkan tingkat penguasaan / kemampuan siswa terhadap materi yang dipersiapkan untuk masing – masing siswa secara individual.
Fokus : Bagaimana meningkatkan kemampuan / penguasaan siswa terhadap pelajaran matematika tentang materi menentukan KPK dan FPB dengan menggunakan metode tanya jawab

Tabel 4.8. Pelaksanaan Perbaikan Pembelajaran Matematika Materi menentukan KPK dan FPB dengan menggunakan faktorisasi prima, pada siswa kelas V SDN Sidomukti II Kec. Kasiman Kab. Bojonegoropada Siklus II
No. Kegiatan Pelaksanaan
1. Rencana Tindakan - Menyusun RP
- Menyiapkan materi
- Mengevaluasi kesiapan siswa
- Menyusun pertanyaan
2. Pelaksanaan Tindakan - Melaksanaan pembelajaran matematika materi menentukan KPK dan FPB dengan menggunakan cara faktorisasi prima.
- Mengamati dan mengidentifikasi kemampuan dan kesulitan siswa dalam proses pembelajaran.
- Mengadakan evaluasi
3. Obsevasi - Melakukan observasi terhadap pembelajaran
4. Refleksi - Melakukan refleksi terhadap pembelajaran.
- Melakukan refleksi terhadap hasil belajar siswa.

Tabel 4.9 Tahapan Kegiatan Perbaikan Pembelajaran Matematika materi menentukan KPK dan FPB dengan menggunakan cara faktorisasi prima dengan metode tanya jawab pada siswa Kelas V SDN Sidomukti II Kec. Kasiman Kab. BojonegoroSiklus II.
No. Tahap kegiatan Tujuan Hasil yang dicapai Waktu
1. Awal Mengidentifikasi masalah dari pelaksanaan pembelajaran I Kewajiban memperbaiki pembelajaran. Kamis
18-08-2011
2. Rencana tindakan - Menyusun rencana pelaksanaan siklus tentang: menyusun RP, menyiapakan alat bantu, menyusun pertanyaan dan materi tes.
- Mengevaluasi kesiapan siswa - Guru dapat membuat RP.
- Menyediakan materi yang relevan.
- Menyiapkan alat peraga, membuat materi tes dan pedoman observasi Kamis
18-08-2011
3. Pelaksanaan tindakan Melaksanakan pembelajaran seefektif mungkin dengan menggunakan strategi tugas individual dan dibantu alat praga Pembelajaran berjalan sesuai dengan rencana Kamis
18-08-2011
4. Observasi Mengobservasi kegiatan pembelajaran yang berhubungan dengan kegiatan guru diantaranya :
- Penggunaan waktu seefektif mungkin
- Pelaksanaan pembelajaran sesuai RP.
- Mengunakan strategi Tugas Indivitual menekankan pada keaktifan siswa Hasil observasi dapat diperoleh dengan bantuan teman sejawat dan hasilnya terlampir pada lembar observasi matematika. Kamis
18-08-2011
5. Refleksi Mengawasi semua aktivitas dan mencatat hasil pengamatan yang aktivitas siswa secara individual. Hasil refleksi ada pada lembar refleksi. Kamis
18-08-2011

Tabel 4.10. : Hasil Belajar Siswa pada Perbaikan Pembelajaran Matematika materi FPB dan KPK, dengan metode Tanya jawab pada siswa kelas V SDN Sidomukti II Kec. Kasiman Kab. Bojonegoropada Siklus II
No. NIS Nama Siswa Jawaban yang benar Nilai Presentase (%) Keterangan

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
Bayu heri Setiono
M. Efendi Pradana
Niswatun Aniroh
Ajeng Sulistyaningrum
Sri Rahayuningsih
M. Lutfi Aziz
Siti darwati 6
10
9
10
7
9
7
60
100
90
100
70
90
70
60
100
90
100
70
90
70
Belum Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
JUMLAH 58 580 580
NILAI RATA-RATA 8.28 82,8 82,8 Tuntas

Tabel 4.11. : Rekapitulasi Hasil Belajar Siswa pada Perbaikan Pembelajaran Matematika materi FPB dan KPK dengan metode tanya jaawab siswa kelas V SDN Sidomukti II Kec. Kasiman Kab. Bojonegoro
No . Nilai Jumlah siswa Jumlah nilai Presentase
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9
10
11
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
100
0
0
0
0
0
0
1
2
-
2
2
-
-
-
-
-
-
60
140
-
180
200 -
-
-
-
-
-
12%
26%
-
26%
26%

7 100%
Diagram Batang 2 :
Rekapitulasi Hasil Belajar Siswa pada Perbaikan Pemelajaran Matematika materi FPB dan KPK menggunakan metode tanya jawab siswa kelas V SDN Sidomukti II Kec. Kasiman Kab. Bojonegoropada Siklus II.

Tabel 4. 12 : Data Kelompok Siswa yang dinyatakan Tuntas Belajar Mata Pelajaran Matematika Kelas V Semester I Pokok Bahasan : FPB dan KPK Siklus II.
No. Kelompok Nilai Siswa Keterangan
1.
2. < 70 %
≥ 70 % 1 orang
6 orang Belum tuntas
Tuntas
JUMLAH 7 orang

3. Pengamatan
Dalam pelaksanaan pembelajaran siklus II guru menjelaskan materi menggunakan metode ceramah, tanya jawab dan pemberian tugas. Guru sudah berhasil memotivasi siswa dengan cara banyak Tanya jawab dan soal-soal FPB dan KPK, hal ini terlihat dari keaktifan siswa dalam pembelajaran. Berikut data hasil Pengamatan pelaksanaan pembelajaran siklus II yang dilakukan oleh teman sejawat.

Table 4.13 Lembar Pengamatan Pembelajaran Siklus II
Tempat Pelaksanaan : SDN Sidomukti 02 Kec. Kasiman
Kelas V : III
Mata Pelajaran : Matematika
Hari/tanggal : selasa, 23 Agustus 2011
Jam ke : 1-2
Jumlah Siswa : 7 Siswa

No Kegiatan Keberadaan Kualitas
Ya Tidak Baik Cukup Kurang
1

2

3

4 Apakah siswa telah siap mendapatkan pelajaran
Apakah siswa memperhatikan pelajaran guru
Apakah siswa aktif dalam pembelajaran
Apakah siswa memahami penjelasan guru 


No Kegiatan Keberadaan Kualitas
Ya Tidak Baik Cukup Kurang
1

2

3

4

5
6
7
8

9 Menentukan penataan ruang dan fasilitas belajar
Memulai pembelajaran dengan apersepsi
Melaksanakan pembelajaran yang sesuai dengan tujuan, siswa,situasi dan lingkungan
Memicu dan memelihara keterlibatan siswa
Memantapkan pengusaan materi dan pembelajaran
Memakai media pembelajaran
Menentukan metode pembelajaran 





Table 4.14 Hasil Pengamatan Pembelajaran Siklus II
No Nama Siklus II Taraf Seraf Keterangan
1 Bayu heri Setiono 60 60 Kemampuan siswa dalam menentukan FPB dan KPK sudah maksimal hal ini terlihat dari kemampuan siswa dalam mengerjakan soal evaluasi sudah mengalami kenaikan yang dari 3 siswa yang mendapat nilai di atas 70 mencapai 85 % dibandingkan dengan siklus I yang mencapai 70 ke atas hanya 42 %
2 M. Efendi Pradana 100 100
3 Niswatun Aniroh 90 90
4 Ajeng Sulistyaningrum 100 100
5 Sri Rahayuningsih 70 70
6 M. Lutfi Aziz 90 90
7 Siti Darwati 70 70
Jumlah 580 580
Rata-rata 82,8
Berdasarkan data diatas, keberhasilan pembelajaran siklus II sudah mencapai 85 %, karena dari 7siswa yang mendapat nilai 70 ke ke bawah hanya 1 siswa. Berdasarkan data yang ada telah jelas bahwa sudah terjadi peningkatan nilai atau taraf siswa yang cukup signifikan terhadap materi pelajaran Matematika tentang membaca dalam hati dengan tema pemahaman. Untuk lebih jelasnya berikut ini data perbandingan nilai pada siklus I dan II.
Table 4.15 perbandingan nilai siklus I dan II
No Nama Siklus I Siklus II Keterangan
1 Bayu heri Setiono 50 60 Kemampuan siswa dalam menentukan FPB dan KPK sudah maksimal hal ini terlihat dari kemampuan siswa dalam mengerjakan soal evaluasi sudah mengalami kenaikan yang dari 4 siswa yang mendapat nilai ≥ 70 mencapai 85 % dibandingkan dengan siklus I yang mencapai ≥70 ke atas hanya 42 %
2 M. Efendi Pradana 70 100
3 Niswatun Aniroh 70 90
4 Ajeng Sulistyaningrum 90 100
5 Sri Rahayuningsih 50 70
6 M. Lutfi Aziz 60 90
7 Siti Darwati 50 70
Jumlah 440 580
Rata-rata 62,8 82,8

4.Refleksi
Pada pembelajaran siklus II, Guru sudah banyak berinteraksi dengan siswa saat menjelaskan dengan Tanya jawab juga menggunakan media pembelajaran yang mampu merangsang anak untuk berpikir dan semangat mengikuti pembelajaran, sehingga kemampuan siswa dalam menentukan FPB dan KPK sudah maksimal hal ini terlihat dari hasil yang diperoleh siswa dalam mengerjakan soal evaluasi. Siswa yang mendapat nilai di atas 70 sebanyak 6 siswa atau mencapai 85% sehingga guru tidak perlu melanjutkan ke siklus III

B. Pembahasan
Pada pembelajaran siklus I yang dilaksanakan pada hari Selasa 16 Agustus 2011 dari pukul 07.00 – 08.10 WIB. Dengan materi yang diberikan adalah menentukan KPK dan FPB dengan faktor prima dan faktorisasi prima menggunakan metode ceramah dan pemberian tugas dengan media sederhana. Berdasarkan hasil penelitian dari teman sejawat dengan menggunakan format Pengamatan yang tersedia dapat diperoleh penyebab kegagalan pembelajaran siklus I adalah sebagai berikut :
1. Guru menerangkan hanya menggunakan metode ceramah.
2. Guru kurang menarik perhatian siswa.
3. Guru kurang memberi kesempatan siswa bertanya
4. Guru kurang memberikan penjelasan yang mudah dimengerti siswa
5. Guru kurang maksimal dalam penggunaan media pembelajaran yang ada

Keadaan orang tua yang kurang memperhatikan anaknya. Dalam pelaksanaan pembelajaran siklus I guru menjelaskan materi hanya menggunakan metode ceramah dan pemberian tugas. Guru kurang berhasil memotivasi siswa hal ini terkait dari kurang aktifnya siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Berikut ini data hasil observasi pelaksanaan pembelajaran siklus I yang dilakukan oleh teman sejawat.
Dalam pelaksanaan pembelajaran siklus I peneliti dalam menyampaikan materi hanya menggunakan metode ceramah dan pemberian tugas. Guru kurang dalam memotivasi siswa, hal ini terkait dari kurang aktifnya siswa dalam bertanya bagian yang mereka masih bingung dan kesulitan. Hal ini terlihat dari hasil nilai evaluasi akhir yang diperoleh siswa Kelas V SDN Sidomukti 02 Kec. Kasiman Kab. Bojonegoro yang rata-rata nilai mata pelajaran Matematika hanya mencapai 65 dari 7 siswa yang mendapat nilai ≥ 70 hanya 3 siswa atau mencapai 42 % dan yang 4 siswa mendapat nilai ≤ 70 atau mencapai 58 % dari hasil tersebut peneliti mengadakan perbaikan siklus II.
Dalam pelaksanaan pembelajaran siklus II peneliti dalam menyampaikan pembelajaran menerapkan banyak metode antara lain ceramah, tanya jawab, pemberian tugas dan menggunakan media pebelajaran sehingga hasilnya pun berbeda dengan pembelajaran sebelumnya. Guru telah berhasil memotivasi siswa , hal ini terkait dari keaktifan atau minat siswa dalam bertanya dan menyelesaikan soal terkait FPB dan KPK.. Pengertian ini sejalan pendapat yang menyebutkan bahwa minat dan motivasi dapat timbul dari kesadaran dan inisiatif diri seseorang dan dapat timbul dari pengaruh luar, dalam bentuk-bentuk yang terpola atau tidak terpola ( Dawson dan Bamman, 1960 : 140-144).
Tanya jawab saat penjelasan sangat berrti untuk siswa, hal itu terlihat dari hasil nilai evaluasi yang dicapai oleh siswa Kelas V SDN Sidomukti 02 Kecamatan Kasiman Kabupaten Bojonegoro, rata-rata nilai mata pelajaran Matematika sudah mencapai 85. Perolehan ini sudah mengalami kenaikan yang signifikan dibandingkan pada pembelajaran siklus I yang hanya mencapai nilai rata-rata 62,8 dari 7 siswa pada perbaikan pembelajaran siklus II yang mendapatkan nilai diatas 70 sebanyak 7 siswa atau mencapai 85 % dan yang 1 siswa memperoleh nilai 70 ke bawah atau hanya mecapai 15 %. Jadi sklus II kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal yang berkaitan dengan FPB dan KPK meningkat sebanyak 20%

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN TINDAK LANJUT

A. Kesimpulan
Simpulan akhir yang bisa dikemukakan sebagai jawaban atas masalah yang ada dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
Penerapan metode tanya jawab dalam pembelajaran Matematika terbukti bisa meningkatkan kemampuan siswa Kelas V SDN Sidomukti II Kecamatan Kasiman Kabupaten Bojonegoro Tahun Pelajaran 2011/2012 dalam menentukan KPK dan FPB. Dari siklus I ke siklus II kemampuan siswa dalam menentukan KPK dan FPB meningkat sebesar 43% (dari 42% pada siklus I menjadi 85% pada siklus II). Secara keseluruhan penelitian tindakan ini telah berhasil meningkatkan kemampuan siswa dalam menentukan KPK dan FPB sebesar 43%.

B. Saran-saran
1. Disarankan kepada siswa agar terus berlatih dalam menentukan KPK dan FPB mengingat pentingnya peranan matematika dalam kehidupan manusia. Dengan rajin berlatih maka siapapun bisa meningkatkan dalam menentukan KPK dan FPB. Ingat motto: “Bisa karena biasa”.
2. Disarankan pula kepada sejawat guru yang lain agar terus berusaha meningkatkan kompetensi dan profesionalismenya dalam melaksanakan pembelajaran. Dan manakala menghadapi masalah yang serupa dengan yang ada dalam penelitian ini, kiranya bisa dicoba mengatasinya dengan cara menerapkan metode tanya jawab. Karena metode ini telah terbukti bisa meningkatkan aktivitas belajar, kemampuan dalam menentukan KPK dan FPB, dan prestasi belajar siswa dalam menentukan KPK dan FPB. Selain itu juga karena metode tanya jawab memiliki banyak kelebihan sebagai metode pembelajaran.
3. Disarankan kepada Kepala Sekolah supaya memotivasi guru untuk selalu kreatif dalam pembelajaran dengan memilih metode dan media pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan anak dan up to date sehingga pembelajaran dapat lebih menarik dan anak tertantang untuk mengikuti serta secara tidak langsung hasil belajar anak didik meningkat secara signifikan

DAFTAR PUSTAKA

Andayani ,dkk (2009). Pemantapan Kemampuan Profesional. Jakarta. Universitas Terbuka.
E.C Wragg. (1997) Ketrampilan mengajar di Sekolah Dasar, diterjemahkan/disadur oleh: Anwar Jasin, Penerbit PT Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta Sumber: http://id.shvoong.com/writing-and-speaking/presenting/2116351-kelebihan-dan-kekurangan-metode-tanya/#ixzz1VvZlXcfb. Diakses 24 Agustus 2011.
Herdian. (2010). Kemampuan Pemahaman Matematika. Sumber: http://herdy07.wordpress.com/?s=kemampuan+pemahaman+matematis. Diakses 24 Agustus 2011

Heruman (2007). Model Pembelajaran Matematika di SD. Bandung. PT Remaja Rosdakarya

Kunandar (2008). Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi Guru. Bandung. Rajawali Press

Muhsetyo, Gatot dkk (2010). Pembelajaran Matematika SD. Jakarta. Universitas Terbuka

Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (1990), Kamus besar Bahasa Indonesia. Jakarta. Balai Pustaka

Rahadian. (2009). FPB (Faktor Persekutuan Terbesar). Sumber: http://klikbelajar.com/pelajaran-sekolah/pelajaran-matematika/matematika-fpb-faktor-persekutuan-terbesar/. diakses pada tanggal 27 Agustus 2011

Rahadian. (2009). KPK (Kelipatan Persekutuan Terkecil). Sumber: http://klikbelajar.com/pelajaran-sekolah/pelajaran-matematika/matematika-kpk-kelipatan-persekutuan-terkecil/. Diakses pada tanggal 27 Agustus 2011

Suciati (2005). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta, Universitas Terbuka

Susilo, Joko (2008). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Yogyakarta. Pustaka Pelajar

Cinta Hitam (cerpen oleh:Nurkholis SPd.SD)

18 Okt

CINTA HITAM
Karya Papi Cho ( Nurkholis )
Anggota Kelas Menulis Sanggar Guna

“Sedelok engkas ape udan, opo sampean pengen mati kademen?”1
Sebuah suara yang sangat sering aku dengar. Suara yang aku rindukan sekaligus suara yang aku benci.
Siang di pertengahan Januari, gerimis mulai turun satu-satu. Bongkahan awan berarak kian menghitam. Mengeras, sekeras hati dan perasaanku. Angin berdesir menampar pipi mulusku yang tidak ditumbuhi jerawat. Kubiarkan dedaunan taman alun-alun kota Bojonegoro, jatuh luruh menimpa rambutku.
Aku tetap tak bergeming. Seandainya pohon sono yang derderet di sekitar sini tumbang, aku berani bertaruh tidak akan pernah bisa melukai tubuhku.
Beberapa detik, pemilik suara itu masih menanti jawaban dari bibirku yang tetap tertutup rapat. Pandanganku kosong menatap tarian tanaman sono di tengah alun-alun dipermainkan angin.
Ia menepuk dan mengusap bahu kananku seperti biasanya jika aku dalam masalah. Ia ikut duduk di sebelahku.
“Sudahlah, Ra! Kita pikirkan langkah selanjutnya. Semua kejadian buruk yang terjadi akhir-akhir ini kita jadikan pengalaman. Kita jadikan batu pijakan agar tidak salah mengambil langkah,”
“Semua ini adalah kesalahanmu tiga tahun lalu. Mengapa kamu tega melakukannya?”
Aku enggan menatap sosok yang menjadi sumber masalah bagiku dan keluargaku.
“Waktu tidak dapat diputar ulang. Jika bisa, pasti tidak akan pernah terjadi peristiwa seperti itu. Aku akan mengisi setiap detik dengan kebaikan.”
“Kamu selalu cari enaknya saja!”
Nada bicaraku meninggi. Sebenarnya aku tidak akan pernah sanggup berkata seperti itu. Beberapa pengunjung yang sekedar melepas lelah sempat melihat kami sekilas, entah apa yang mereka pikirkan. Aku tidak peduli.
Rasanya hatiku mulai berasap terbakar perasaan benci, dendam pada masa tiga tahun silam di salah satu asrama karantika pemilihan duta wisata di kotaku.
Wisma Tirta Aji di Kawasan Wedi, Kapas menyimpan cerita itu. Aku menjalani karantina sehari-hari seperti para peserta yang lain. Aku berkenalan dan akrab dengan sesama peserta, baik cowok maupun cewek, yang merupakan putra-putri terbaik penuh potensi untuk memajukan wisata di kotaku.
Semua peserta di asrama sangat suka padaku karena katanya aku perfecsionis, sopan, dan periang. Jika aku tidak ada, rasanya ada yang kurang, sepi tanpa adanya bahan untuk tertawa. Ditambah fisikku yang putih dan bersih. Hidung tidak terlalu mancung tetapi dua lesung pipi yang menambah manis saat aku tersenyum.
Sena, salah satu mahasiswa semester dua dari Surabaya, yang rumahnya berada di Jalan Veteran Bojonegoro, paling dekat denganku. Di sela-sela kegiatan yang padat, kami banyak melakukan kegiatan bersama. Ternyata kesan pertama aku mengenalnya, ia cowok yang sabar, mengayomi dan penuh wawasan. Sementara aku, masih tercatat sebagai pelajar kelas dua sebuah SMU Favorit di kota ini.
Sosoknya ramah dan mudah bergaul dengan orang lain. Semua penghuni asrama banyak yang bertanya bahkan curhat masalah pribadi. Bibirnya yang selalu merah dan tatapannya yang teduh begitu dikagumi peserta cewek.
Suasana asrama Tirta Aji begitu sepi. Aku ijin pada panitia untuk tidak ikut kegiatan yang diadakan di luar asrama malam ini karena badanku kurang fit. Entah apa yang ada dalam benak Sena, ia menawarkan diri menemaniku.
Hingga ia melakukan perbuatan yang tidak pernah aku duga. Sebelum aku pingsan, Ia mengungkapkan perasaannya cintanya padaku. Aku tidak bisa melakukan apa-apa, badanku lemah tak berdaya. Yang aku rasakan dadaku sesak menahan beban. Aroma parfum ditubuhnya membuatku tersadar.
Setelah kejadian itu, aku tidak pernah menyapanya. Sampai penjurian duta wisata selesai, dan dia dinyatakan terpilih untuk maju dalam ajang serupa di Surabaya, mewakili kotaku, aku tetap benci dia.

Beberapa bulan berselang. Aku asing dengan diriku sendiri. Aku sering menyendiri dan berubah jadi pendiam. Aku tidak pernah bisa melupakan kejadian itu. Aku memutuskan untuk menuruti hasrat hatiku. Aku tahu keputusanku ini salah, tapi biarlah waktu yang kan merubahnya. Ironisnya, aku tidak bisa jauh dan meninggalkan dia. Akhirnya aku menerima perasaannya.
****
Aku tersadar dari lamunanku setelah Sena menepuk pundakku dan mengusapnya lagi. Suaranya hanya menangkap hampa di gendang telingaku, berdengung lalu pergi terbawa angin entah ke mana.
Petir menggelegar. Hujan turun tak tertahankan. Sono dan tanaman hias menggeliat kedinginan. Baju atasan warna putih yang ku pakai juga sudah basah. Air masuk melesak melewati rambut dan turun membelah alisku yang tebal melengkung.
Sena berjongkok di depanku. Aku mengatupkan kedua tangan di dada, memeluk pundak. Bibirku bergetar menahan gigil.
“Ayo pergi dari sini! Kita pulang saja. Aku minta maaf”.
“Seharusnya malam itu aku tetap ikut kegiatan di luar asmara. Sehingga aku tidak merasakan penderitaan akibat perbuatanmu!”.
Sena tertunduk mendengar pertanyaanku.
Dengan terbata dan bibir bergetar, aku tumpahkan semua padanya. Kepalaku mulai pening berdenyut. Setengah memaksa, Sena menarikku masuk mobil meninggalkan guyuran hujan lebat di tengah alun-alun. Avanza metalik menantiku di selatan alun-alun.
“Lalu, bagaimana dengan kita? Apa kamu akan tetap bersamaku? Aku tidak peduli dengan omongan orang. Kamu begitu mengerti aku. Selalu ada jika aku sedang butuh. Memberi semangat di saat aku terpuruk terusir dari rumah,”
Sena mulai membuka pembicaraan denganku saat dilihatnya aku sudah sedikit tenang.
Malam telah beranjak. Radio setempat mengalunkan syair syahdu.
“Aku tidak mau lagi masuk dalam kehidupanmu. Kau bebas memutuskan jalan hidupmu sendiri. Memang kita tidak akan pernah bisa bersama. Sebaiknya kau kembali pada keluargamu, ibumu sedang sakit keras, pastinya membutuhkan kehadiranmu.”
“Lalu apa artinya kebersamaan kita beberapa tahun ini? Kita bersama teman-teman mengamen, bekerja di Jakarta untuk melanjutkan hidup, bersekolah agar kita bisa menunjukkan pada orang lain bahwa kita mampu, kita bisa. Berapa banyak anak jalanan dan pengemis yang telah kau beri makanan dari semua usahamu?”
“Itu menurutmu, Raden Mas Sena!”
“Ayolah, Ra! Jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi!”
“Kenapa?”
“Aku tidak mau kau melihatku dari trah keluargaku.”
“Tapi darah biru bangsawan tetap mengalir dalam tubuhmu, memberikanmu hidup sampai saat ini. Aku yakin keluarga besarmu akan memaafkanmu, asal kau berubah dan tidak pernah bersamaku lagi.”
Sena menghentikan laju mobil yang akan menuju Kota Tuban. Di atas jembatan Kali Ketek, avanza berhenti mendadak.
Aku hampir terantuk kaca depan mobil. Kami keluar dari mobil dan duduk di sisi barat jembatan. Hujan telah berlalu, Mataku tak lepas dari gugusan bintang yang mengerlip. Pekat. Permadani malam terbentang luas. Kaki Sena diayun-ayunkan ke bawah jembatan.
” Aku tahu perbuatan kita itu salah, tapi aku tidak mau berubah hanya karena orang lain.”
“Lalu?”
Aku berusaha tenang dan menatap mata teduhnya, ada sesuatu dalam pijar matanya. Aku tak berani memandangnya lama, takut ia akan tahu perasaanku.
“Apa kamu sudah bosan dengan ini semua?”, tanyaku acuh.
“Aku mengakui bahwa cinta kita menang hitam. Aku Lelaki yang begitu memuja keindahan diri. Tapi apa itu salah? Aku mencoba berkata jujur pada diri sendiri. Minimal itu yang menjadi pegangan hidupku.”
“Raka………..Apa yang akan kamu lakukan?”
Lalu – lalang kendaraan melintas di atas jembatan. Di langit masih ada sepenggal gemintang tergantung seakan membawa sepenggal cinta hitamku bersama Sena. Aliran Sungai Bengawan Solo di bawah jembatan Kaliketek bergemuruh, menerima tubuhku dengan damai.

1. Sebentar lagi hujan, apa kau ingin mati kedinginan?

Malam Jumat dini hari,

Bidadari di Kesunyian (cerpen oleh: Nurkholis SPd.SD)

18 Okt

Karya :
Terinspirasi oleh kasus pembunuhan mahasiswi di Desa Ngasem Kec. Ngasem setahun lalu.

SINOPSIS CERPEN

Judul cerpen : Bidadari di Kesunyian
Pengarang :
Jumlah halaman : 4 halaman

Sinopsis :

Cerpen ini menceritakan sepenggal kisah hidup yang mengharukan. Tentang Metha Dewi yang belum genap berusia 20 tahun, mahasiswi semester empat pada sebuah perguruan tinggi negeri di Surabaya, Jawa Timur.
Cerita bermula ketika di pagi yang masih muram awal bulan Februari 2011 di Desa Ngawen, ibunya membangunkan Metha dari tidur, karena ia ada janji mau ketemu teman masa SMA dulu . Sang ibu mendapati Metha sudah tidak bernyawa. Lehernya tersayat belati dapur sepanjang 13 cm dan di tengkuknya ada luka tusukan. Bukan kepalang kepanikan keluarganya atas tindakan bunuh diri Meta.
Setelah pihak forensic rumah sakit Sosodoro Jatikusumo mengadakan visum, hasilnya bukan bunuh diri melainkan Metha telah dibunuh oleh seseorang. Dari bukti puisi-puisinya di facebook yang disebarkannya sehari sebelum tewas, dan fotonya menggenggam erat jemari seorang lelaki di atas meja kafe. Pihak penyidik dibantu oleh psikolog menafsirkan sajak Metha, Polisi menangkap Neptunus, pacar Metha dan mencari siapa sebenarnya Venus, lelaki yang merenggut kesuciannya, serta Rembulan, pasangan Venus.
Selama ini Metha, Si Bidadari di Kesunyian tertatih menghadapi hari dalam kungkungan keluarga, Venus yang tidak setuju bila ia menjalin hubungan dengan Neptunus. Metha tidak mau cerita lukanya pada siapapun. ia tidak mau menyakiti hati keluarga, pada Neptunus yang telah melamarnya, semua misteri terpendam bersama kematiannya.
Berawal dari puisi-puisinya itu pembunuh Metha tertangkap. Pembunuhnya apakah Neptunus, Venus, Rembulan yang selalu iri melihat hubungannnya dengan Venus? Ataukah ada pihak lain?
Setelah tiga bulan misteri kematiannya berlalu penuh kebuntuan, Metha, Si Bidadari di Kesunyian terungkap telah dibunuh oleh Venus, suami dari Rembulan, ibunya sendiri.

Rasa itu kian hari kian tumbuh
Dari bibit ranum berdaun
Daun itu kian subur berdahan kokoh
Tersirami, tersemai tiap hari
Dahan yang mulai bercabang
Kita harus memangkasnya
Karena ia tak seharusnya ada
Lebih baik mati kerontang
Tanpa dahan yang bercabang
Rimbun kan merobohkan bangunan gedung
Meruntuhkan nyanyian burung
Layu kuntum sebelum berbuah
Biarlah Aku, si bidadari hidup di kesunyian

Memang malam itu gerimis menyapa. Suasana Desa Ngawen yang gelap karena padamnya aliran listrik. Kedua orangtuamu tidak ada di rumah, kala itu menghadiri hajatan di rumah seorang warga. Semua terlelap dalam buaian malam berkabut sampai pagi hendak menjelang.
“Metha, Wis rino . Saru medu prawan kok tangine awan. Ga isin Kalah karo pitike bapakmu nek kandang buri kae!”1 Ibumu masuk kamar yang tak terkunci seperti biasa.
Kau diam membisu. Hawa dingin tersirap. Pucuk dedaunan mangga di samping rumahmu masih basah. Kokok ayam jantan saling bersahutan. Sepertinya sang mentari enggan beranjak dari peraduan untuk sekedar datang bertandang.
Ibumu mendekat dan menarik selimutmu yang berserak. Kau tetap diam tak bergerak. Tidur miring memeluk guling meringkuk seperti trenggiling.
“Tangi, Nduk. Jere we ape neng Jonegoro, wes semayan karo Dila?”2
Sesaat ibumu terperanjat. Ia menjerit minta pertolongan dan mendekapmu erat.
“Metha kenek opo Pak? Ojo ninggal ibuk, Nduk?3
Bapakmu sejurus kemudian ikut larut dalam suasana kehilangan. Ia berjalan mondar-mandir sesekali menaikkan sarungnya yang hampir melorot. Tetangga menyemut. Rumahmu penuh sesak. Aku nyaris tercekat tak bisa bernafas.
Mendung memayungi langit Desa Ngawen. Setia menemanimu. Kabar jika kau bunuh diri santer terdengar. Karena ini kali kedua kau melakukannya. Pasti semua berpikir tiada restu jalinan cintamu bersama Neptunus.
Pihak Polsek Ngawen tiba bersama ambulans puskesmas. Di ruang tengah juga hadir Ibu Camat Ngawen. Tampak Kapolsek yang dulu pernah ada hati padamu menjabat tangan bapakmu dan Ibu Camat setelah keluar dari kamarmu.
“Kami turut berduka atas apa yang dialami Meta, Pak Kades”.
“Terima kasih, Pak. Memang kami yang salah meninggalkannya sendiri tadi malam”, ungkapnya nyaris terdengar parau berbisik.
Pihak keluargamu berusaha merelakan dan tidak mau dilakukan otopsi, yang berarti akan menggergaji tubuh mulusmu. Membedah otakmu untuk melihat apakah darahmu membeku bila kau mencoba bunuh diri. Apa yang bisa aku bantu, Bidadariku? Jenazahmu akan dipeluk tanah merah besuk setelah diperiksa pihak rumah sakit.
Hasil visum dari RSUD Sosodoro Djatikosoemo mengungkapkan bahwa penyebab kematianmu bukanlah bunuh diri, tusukan di tengkukmu sedalam 3 cm, sayatan di lehermu sepanjang 13 cm dengan belati dapur yang hampir berkarat. Selaput daramu juga telah robek, bukan hanya malam kemarin, tapi sudah lama. Ini murni pembunuhan. Syukurlah aku tidak perlu repot mengatakannya pada polisi.
Akulah yang menemani Metha gerimis kelam itu.
Akulah yang mengetahui siapa durjana yang menggoreskan luka sayatan belati dapur sepanjang 13 cm di leher jenjangmu. Sedalam 3 cm di tengkukmu. Aku jugalah yang menjadi saksi kunci pengoyak kesucianmu, tersenggal dalam pekat malam, beku, sendiri berteman sunyi.
Tapi mengapa semua mengabaikanku? Acuh akan keberadaanku? Ingin kujambak, kutampar wajah-wajah di sekitarku. Bukankah aku yang sedang mereka cari?
Aku bukan Neptunus, pacarmu yang selalu mengajak ke tempat sepi tiap kali rindu menderu. Membelai rambut panjangmu yang menjuntai sepunggung dengan mantra cinta. Kau terlena, terlelap dalam buaian sejuta janjinya.
Aku juga bukan Venus, lelaki yang mengajarkanmu mengenal indahnya surga dunia di usia belia. Melabuhkan segala kenyamanan dan kehangatan. Tetapi dengannya kau menjadi sosok drakula, matamu nanar menyala, penuh dendam di tebing curam, beringas ingin melibas karena kau kehilangan mahkota yang seharusnya terjaga.
Kau ingat Rembulan, Metha? Sosok yang selalu ada buatmu mulai saat pertama menghirup nafas dunia, sampai menjadi seorang mahasiswi calon guru semester empat sebuah universitas negeri di Kota Pahlawan, kota berlambang ikan sura dan buaya sedang berkelahi memperebutkan kekuasaan, menjaga harga diri dalam dusta janji.
Rembulanmu selalu kesulitan meredam cemburu, amarahnya terpercik setiap kali kau hadir di samping Venus, si penggoda. Jika sudah begini, kesunyian dan keheninganlah yang mampu meredam. Tidak pantas kau menyalahkannya karena dia juga tercabik jika mengetahui apa yang telah terjadi di antara kalian. Venus sandaran hatinya. Iblis yang berlindung di balik jubah malaikat. Semoga kau tidak akan pernah memanggilnya “ayah” untuk anak-anakmu kelak di suatu masa.
Barang buktinya sudah dilenyapkan oleh durjana itu. Yang tersisa hanyalah aku, puisi-puisimu, dan foto saat jemarimu bercincin perak menggenggam jemari seorang lelaki di atas meja sebuah kafe, semua yakin itu tangan Neptunus kekasihmu.
Pihak polisi segera melacak keberadaan Neptunus. Sedang apa ya ia sekarang? Sudah sebulan aku tidak melihat hidung mancungnya, alisnya tebal dipadu sorot mata tajamnya. Rambut belah tenggahnya mengingatkanku pada sosok penyanyi band yang sekarang bisa keluar hotel prodeo da membentuk band baru.
Hasilnya nihil. Ternyata bukan dia pelakunya. Pihak polisi melalui puisimu yang begitu menyentuh bekerja sama dengan seorang psikolog ternama dari Surabaya untuk memecahkan misteri ini. Sekarang mereka giliran mencari siapa sebenarnya Venus dan Rembulan dalam puisimu itu. Aku mengakui kau begitu pintar, Bidadariku?
Mereka mengartikan puisimu itu sebagai cinta segi empat dengan Neptunus, Venus, dan Rembulan.
Gagal mendapatkan Venus dan Rembulan, kini pihak penyidik mengembangkan kasus dengan menjadikan kedua orang tuamu tersangka pembunuhan. Apa ini tidak keterlaluan, Bidadariku?
Apa aku harus mengatakannya sekarang? Aku berharap kau tidak akan marah padaku.
Senja kian temaram, Venus bersikeras untuk menjemputmu meski kau telah mengatakan akan dijemput oleh Neptunus. Mereka hampir adu pukul. Bila sudah begini, kau akan memilih bersama Venus karena ia mengatas namakan orangtuamu. Yang akan terjadi dan sejarah berulang, kau akan terjebak olehnya lagi. Suaramu tercekat habis, Venus tak akan pernah melepasmu untuk lelaki lain, termasuk Neptunus yang jelas-jelas sudah berniat melamarmu. Tetapi bapakmu tidak menyetujui juga.
Aku ingat malam itu mobil Venus parkir di halaman kosmu. Padahal kau sudah akan keluar bersama Neptunus. Beberapa kali Neptunus memanggil namamu. Tetapi hanya kesunyian yang menjawab. Di dalam kau meronta dalam cengkraman Venus. Merintih meratap perih, gelisah dalam amarah yang membuncah. Setelah itu Venus akan mengancammu.
Ibumu membuat pengakuan bahwa kau anaknya dari lelaki lain. Apalagi potongan kisahmu, Bidadariku?
Baiklah, aku sudah lelah dengan semua ini. Aku tidak pernah memejamkan mata sejak malam itu, aku lupa bagaimana caranya makan. Yang ada aku hanya butuh kedamaian, untuk bisa secepatnya mengatakan pada semua siapa si durjana itu.
Aku bisa bernafas lega. Telah terungkap siapa pembunuhmu, Bidadariku! Ia diarak, ditendang, dan diludahi oleh warga Desa Ngawen. Mendung tidak lagi menggantung di langit desa saat bajingan itu mengakui perbuatannya.
“Kau akan membayar mahal, Venus! Maafkan aku Rembulanku, Venusmu telah memisahkan aku dari engkau. Selamat tinggal Rembulanku, Isteri Kepala Desa Ngawen. Aku akan menjadi Bidadari di Kesunyian untuk selamanya”.
Senin masih buta, 7 Februari 2011 yang menyisakan haru.

Footnotes
1. Metha, sudah siang. Tidak pantas anak gadis bangun tidurnya siang. Tidak malu kalah dengan ayamnya bapakmu di kandang belakang itu.
2. Bangun, Anakku. Katanya kamu mau ke Bojonegoro sudah ada janji dengan Dila?
3. Metha, kenapa Pak? Jangan meninggalkan ibumu anakku!

Hello world!

7 Okt

Welcome to WordPress.com! This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

Happy blogging!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.